Liputan International Premiere Elesan Deq A Tutuq (2003) di Arkipel International Documentary & Experimental Film Festival 2013.

 

Elesan itu artinya jejak,” ujar Sibawaihi, salah seorang anggota Komunitas Pasir Putih, menanggapi pertanyaan dari salah seorang pengunjung Arkipel International Documentary & Experimental Film Festival 2013, pada malam pemutaran perdana Filem Dokumenter Elesan Deq a Tutuq atau Jejak yang Tidak Berhenti (2013) di Jakarta, Minggu, 25 Agustus 2013.

“Tapi sebenarnya jika kita cari padanan kata ‘jejak’ dalam Bahasa Sasak, cukup sulit,” Sibawaihi mencoba menjelaskan. Menurutnya, jika ingin memahami arti kata ‘elesan’, contoh yang paling mudah untuk mendeskripsikannya adalah jejak jalan setapak yang seringkali kita temui di dalam hutan. Jejak yang dimaksud di sini adalah yang tidak sengaja dibuat jejak yang membekas karena sering dilalui oleh orang, ratusan bahkan ribuan kali. Jejak itu terbentuk dengan sendirinya. “Aliran air pada batu juga bisa disebut ‘elesan’ karena air itu meninggalkan bekas pada batu.”

elesan-2

Bertempat di GoetheHaus, Jl. Sam Ratulangi 9-15, Menteng, Jakarta Pusat, dengan kedatangan para pengunjung yang memenuhi kurang lebih sepertiga bangku penonton, pemutaran filem dokumenter produksi Forum Lenteng bekerjasama dengan Komunitas Pasir Putih (Pemenang, Lombok Utara) tersebut berjalan cukup lancar meskipun sempat terjadi kesalahan teknis pada awal penayangan filem.

Elesan Deq a Tutuq merupakan hasil kerja kolaborasi dalam Program akumassa yang digagas oleh Forum Lenteng, sebuah program pendidikan dan pemberdayaan masyarakat dan literasi media yang mengajak komunitas lokal di beberapa daerah untuk mengkaji, mendokumentasikan dan mengolah (produksi dan distribusi) isu-isu atau narasi-narasi kecil yang tersebar di wilayah lokal mereka masing-masing menjadi informasi dan pengetahuan yang bermanfaat, baik bagi kebutuhan lingkungan lokalnya maupun bagi masyarakat umum secara luas. Sejak diinisiasi pada tahun 2008, Elesan Deq a Tutuq merupakan filem dokumenter feature produksi Program akumassa yang ketiga (sekaligus filem dokumenter feature ke-4 Forum Lenteng), setelah sebelumnya memproduksi Dongeng Rangkas (2011, bekerjasama dengan Komunitas Saidjah Forum di Lebak) dan Naga Yang Berjalan Di Atas Air (2012, bekerjasama dengan Komunitas Djuanda di Tangerang Selatan).

elesan-4

Pada malam itu, hadir para tim kerja pembuat Elesan Deq a Tutuq, diantaranya ialah Syaiful Anwar (sutradara), Gelar Agryano Soemantri dan Muhammad Sibawaihi (co-sutradara), Syamsul Hadi (penata kamera), serta Muhammad Gozali, Ketua Komunitas Pasir Putih yang juga merupakan co-produser filem tersebut.

Paul, panggilan akrab sang sutradara, menjelaskan bahwa Elesan Deq a Tutuq mengangkat sebuah topik yang sangat khas lokal daerah Lombok, di mana kehadiran seorang Tuan Guru, yang memiliki kedudukan sosial yang tinggi dalam struktur masyarakat Sasak, menjadi sebuah fenomena sejak dahulu. Dalam buku katalog festival Arkipel, disebutkan bahwa fenomena Tuan Guru ini sudah ada sejak abad 15-16 M (Katalog Arkipel, 2013, hlm. 232). Sosok ini identik dengan karakter seorang yang kharismatik, pemimpin yang taat dan alim, serta memiliki pengetahuan keislaman yang luas dan dalam. Akan tetapi, bingkaian yang dihadirkan dalam Elesan Deq a Tutuq ialah justru sisi manusiawi Tuan Guru sebagai tokoh yang sangat cair dalam lingkungan keluarga dan warga lokal Lombok.

“Di dalam filem ini, kami juga menghadirkan sosok Jatul, seorang seniman di Lombok, yang juga merupakan keturunan Tuan Guru,” ujar Paul. Dan ketika kita mengamatinya secara lebih cermat, jalur pilihan hidup yang bertolak belakang antara dua tokoh Tuan Guru dan seniman ini menjadi salah satu unsur eksperimentasi utama yang coba diusahakan oleh Paul dalam membangun narasi melalui bahasa filem. Berbeda dengan bahasa dokumenter TV yang biasa kita tonton, Elesan Deq a Tutuq lebih bermain-main melalui bangunan montase yang memancing nalar penonton untuk mencerna bagaimana sebuah realitas narasi lokal dihadirkan sebagai representasi dalam medium filem, yang tentunya memiliki peluang bagi penafsiran lebih luas.

Pertentangan-pertentangan antara karakter Tuan Guru dan seniman yang dilihatkan dalam filem sebenarnya menunjukkan kita salah satu cara untuk melihat lokalitas Lombok, yang di satu sisi merupakan sebuah daerah tempat pertemuan orang-orang yang berasal dari akar berbeda (turis dan warga lokal), sedangkan di sisi lain menjadi cerminan kehidupan masyarakat dalam lingkungan sosiokultural yang tak lepas dari ritual-ritual religi.

“Dari karakter Tuan Guru kita dapat menjelajahi persinggungan dan interaksi manusia dengan Yang Di Atas (Sang Khalik) dan bagaimana sikap berpasrah diri itu dibawa dalam kehidupan sehari-hari,” jelas Paul ketika ditanya setelah pemutaran yang kedua dari filem tersebut, di kineforum, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada malam, 26 Agustus 2013, khusus untuk subteks Bahasa Inggris. “Sementara dari karakter Jatul, melalui jalur sirkulasi dan aktivitasnya sehari-hari sebagai seorang seniman, kita bisa menelusuri tiap-tiap masalah yang tersebar di lingkungan masyarakat Lombok.”

Untuk memahami pernyataan Paul ini, kita bisa melihat, salah satunya, pada adegan Jatul yang berbincang dengan seorang manajer restoran di Pulau Gili Trawangan. Gerakan dan deretan bidikan (shot) kamera yang berganti-ganti merekam setiap percakapan dan menuansakan kekesalan pekerja lokal terhadap cara kerja turis yang merupakan atasannya. Pada adegan ini, kita menyadari bagaimana signifikansi kehadiran yang cair dari medium teknologi perekam dalam menangkap polemik-polemik yang bersalingsingkarut di lingkungan masyarakat lintas kelas, tetapi minim intervensi dari si pemegang kamera. Percakapan itu mengalir dengan sendirinya, dan ini menegaskan bagaimana posisi dan peran warga lokal, Jatul, yang memiliki pengaruh dalam proses menentukan narasi-narasi apa yang dapat dipersoalkan. Kamera ‘melihat’ melalui ‘mata’ Jatul.

Selain itu, adegan berzikir di penghujung cerita filem, sejatinya, juga menunjukkan bagaimana realitas ketaatan individu dan kelompok dalam suatu ruang lingkup komunitas masyarakat tersebut mampu mengobrak-abrik kesadaran kolektif kita mengenai suatu usaha pencapaian transendental manusia. Irama bidikan pada jalinan montase yang dibangun dalam filem bukan sekedar usaha untuk menyelaraskan suara dan ‘tarian’ yang semakin lama semakin cepat, tetapi juga menjadi salah satu contoh konkret dari eksperimentasi bahasa filem dalam membangun klimaks secara visual tanpa bertele-tele menjelaskan esensi realitas yang dimaksud secara verbal: Lengkingan seorang anak di antara suara-suara ‘kegilaan’ orang dewasa dalam gerak bidikan yang berganti-ganti semakin cepat itu menjadi semacam benturan yang telak dan memancing ketergangguan atas daya pikir penonton terhadap filem.

elesan-5

Dan memang seperti itulah sesungguhnya filem bekerja. Apa yang dipahami sebagai konflik, bukan berarti perpecahan dan perpisahan, melainkan suatu proses dialektika yang akan menghasilkan gagasan-gagasan atau penafsiran baru. Melalui filem-filem tersebut, kita dapat memahami sebuah perkembangan dan kedewasaan jaman, baik dari cara berpikir maupun cara hidup. Pernyataan-pernyataan Tuan Guru yang meragukan keberhasilan Jatul, si seniman, toh akhirnya bukan lah penekanan yang hendak ditonjolkan. Justru, kontradiksi pemamaham di antara keduanya menunjukkan kepada kita bahwa ada jejak yang tidak berhenti, bahwa kemerdekaan cara berpikir manusia dalam menentukan jalan hidupnya merupakan suatu cara untuk melestarikan dan mengembangkan pemikiran-pemikiran terdahulu.

Jika ‘suara anak-anak’ lebih nyaring dari ‘suara orang-orang yang dituakan’, mengapa tidak? Karena jejak kemandirian yang akan dilalui itu akan terbentuk dengan sendirinya tanpa perlu didikte atau disengaja-sengajakan arahnya. Begitulah “Elesan Deq a Tutuq”.

http://elesan.akumassa.org/

Leave a Comment