In News, News 2013

ARKIPEL Award

Old Cinema, Bologna Melodrama (2011)
Davide Rizzo (Italia)

Old Cinema, Bologna Melodrama, Davide Rizzo

Old Cinema, Bologna Melodrama, Davide Rizzo

ARKIPEL Award diberikan kepada filem yang bereksperimentasi dengan kompleksitas tematik dan bereksplorasi dengan estetika yang menghasilkan pertanyaan mendalam, serta berpotensi terhadap dampak sosial.

Filem Old Cinema, Bologna Melodrama menelusuri jejak-jejak historis sinema sembari mengungkap kehidupan sosial budaya yang diwarnai oleh benturan politik, jender, kelas, dan ras. Filem ini merefleksikan kenangan juga sebagai kenyataan hari ini berkaitan dengan sinema Italia. Filem ini juga merekam dan merekonstruksi ingatan warga tentang kota dan sejarah bioskop untuk melihat kembali sejarah politik sebuah negara. Filem ini berbicara tentang sinema populer dalam konteks global. Kota Bologna, merepresentasikan dominasi global filem-filem Amerika, dengan membebaskan suara-suara lokal merespon dan bernegosiasi dengan hegemoni budaya. Filem ini tidak perlu mengambil footage Italia tahun 40-an untuk menggambarkan suasana perang, melainkan hanya dengan menampilkan gedung bioskop yang terbengkalai. Cara ini menghasilkan gambar yang nostalgi tentang budaya sinema di Italia pada masa lalu dan, sekaligus juga menawarkan pandangan kritis terhadap masyarakat baik di masa lalu dan sekarang, dengan menggunakan idiom-idiom budaya populer.

Arkipel Award given to a film whose experiments with thematic complexities and exploration with aesthetics generate profound questions and potential for social impact.

Old Cinema, Bologna Melodrama traces cinema history while exposing social and cultural history filled with political, gender, class, and racial tensions. The film reflects on memory as contemporary reality with regards to Italian cinema. The film records and reconstructs citizens’ memory on the city and the history of cinema in order to reexamine a country’s political history. It discusses popular cinema in the global context; the city of Bologna represents the global domination of American films while allowing local voices to respond to and negotiate with cultural hegemony. The film does not need to use footages of Italian films in the 1940s to depict war time but rather captures abandoned movie theaters. This method produces a nostalgic picture of Italian film culture in the past and, at the same time, offers a critical view on the society in both the present and the past using idioms of popular culture.

 

Jury Award

Suitcase of Love and Shame (2013)
Jane Gilooly (Amerika Serikat)

Suitcase of Love and Shame_Jane Gillooly_Screenshot

Suitcase of Love and Shame, Jane Gillooly

 

Jury Award adalah penghargaan kepada filem yang mendapatkan perhatian dan penilaian khusus dari juri.

Filem Suitcase of Love and Shame melebarkan konsep voyeurism dengan menempatkan kita (penonton) sebagai penguping, serta menghadapkan penonton kepada situasi yang tidak nyaman atas akses kehidupan privat para tokohnya. Bertaut pada wilayah privat, filem ini bicara tentang politik jender 60-an (di Amerika Serikat), dan mengungkap tegangan antara seksualitas dan moralitas. Suitcase of Love and Shame memunculkan teks baru dari jukstaposisi imaji dan audio dalam struktur dramatik yang rapi. Filem ini mengolah memori, visual dan suara, secara lintas media. Dalam sejarah sinema, aspek suara seringkali dianggap merusak struktur visual. Namun filem ini berada dalam wilayah sinema yang berkontribusi terhadap perspektif baru tentang estitika suara dalam filem. Visual menjadi metafor dari tabu, represi seksualitas, dan sensor diri dalam hubungannya dengan nilai-nilai dominan masyarakat. Teks yang menempel pada obyek-obyek menjadi unsur naratif di filem ini.

Filem ini kaya akan unsur estetik, kesempurnaan teknisnya tak terelakkan.

Jury Award is an award given to a film receiving attention and special evaluation from the jury.

Suitcase of Love and Shame expands the concept of voyeurism by situating us (the audience) as eavesdroppers, confronting us with an uncomfortable situation for getting the access to the private lives of the characters. Anchored on the private sphere, the film comments on 1960s gender politics in the United States and exposes the tension between sexuality and morality. Suitcase of Love and Shame presents new texts from the juxtaposition of images and sound in a carefully woven dramatic structure. The film explores memory, visual, and sound, as cross media practice. In the history of cinema, the sound has been regarded as disruptive to the visual. However, A Suitcase of Love and Shame could be situated in a trajectory of films that contributes to the new perspectives on sound aesthetics in cinema. The visual serves as a metaphor of taboo, sexual repression, and self censorship in relation to the dominant values in the society. The narrative is built through texts attached to objects in the film.

The film is aesthetically rich, its technical perfection is undeniable.

 

D.A. Peransi Award

(Polazište za čekanje) The Waiting Point (2013)
Maša Drndic (Kroasia)

Polazište za Čekanje, Maša Drndic

Polazište za Čekanje, Maša Drndic

 

D.A. Peransi Award adalah penghargaan untuk sebuah karya yang muncul secara menonjol oleh sutradara yang namanya belum begitu dikenal namun berkontribusi dalam festival ini dengan ide yang segar dan memprovokasi persoalan kepublikan dalam filem dokumenter dan eksperimental.

The Waiting Point adalah sebuah filem yang berbicara tentang identitas, terkait dengan perubahan-perubahan yang terjadi di tengah persiapan masukanya Kroasia ke dalam Uni Eropa. Gaya bertutur filem disampaikan dengan puitis dan tidak bertele-tele. Filem ini bereksperimentasi dengan teknik voyeurism atau mengamati (memata-matai), yang merupakan pengembangan dari cinéma vérité. Pilihan sutradara menggunakan teknik pewarnaan hitam-putih, secara mengejutkan mampu mendekatkan penonton pada kenyataan sehari-hari yang berwarna.

Melalui karya-karyanya, D.A. Peransi seperti menganjurkan bahwa sebuah karya untuk selalu memiliki hubungan-hubungan sosial, politik, budaya, dengan publik. Dalam The Waiting Point, kamera hadir untuk mendiskusikan kembali keputusan-keputusan negara dan korporasi terhadap rakyat.

The D.A. Peransi Award is an award given to a prominent film directed by an emerging filmmaker that contributes to the festival through provoking ideas  on social issues in a documentary or experimental form.

The Waiting Point is a film that discusses identity issues in relation to the shifts taking place amidst the preparations for the entrance of Croatia to the European Union. The narrative style of the film is poetic and straightforward. The film experiments with the technique of voyeurism derived from the approach of cinéma vérité. The director’s choice in deploying black and white color strikingly brings the audience closer to the colorful everyday reality.

Through his works, D.A. Peransi seemed to suggest that a film should establish social, political, and cultural relations with the public. In The Waiting Point, the camera is present to reconsider the impacts of the decisions made by the state and corporates upon people.

 

Forum Lenteng Award

Les Fantômes de L’escarlate (The Ghosts and The Escarlate) (2012)
Julie Nguyen van Qui (Prancis)

Les Fantômes de L'escarlate, Julie Nguyen Van Qui

Les Fantômes de L’escarlate, Julie Nguyen Van Qui

 

Forum Lenteng Award adalah penghargaan untuk filem terbaik di dalam festival filem ARKIPEL tahun ini berdasarkan polllng pilihan kawan-kawan Forum Lenteng, juri, dan kurator selama festival berjalan. Tidak ada batasan tahun produksi filem.
Forum Lenteng Award is given to the best filem screened during the ARKIPEL film festival, based on the polling of Forum Lenteng members, the juries, and curators. No year of production restriction.
Seluruh pemenang mendapatkan HardDrive 2 TB, dalam sebuah kotak kayu, berisikan hampir seluruh koleksi karya produksi Forum Lenteng 2003-2013. All the winners receive a 2 TB harddrive, packaged in a wooden box, containing the complete works of Forum Lenteng 2003-2013.