In Announcement

Please scroll down for the English translation!

PERHELATAN ARKIPEL social/kapital – 4th Jakarta International Documentary and Experimental Film resmi ditutup pada malam penghargaan di Goethehaus tanggal 26 Agustus, 2016. Total sebanyak 87 judul film dari 25 negara diputar sejak festival film ARKIPEL dibuka tanggal 19 Agustus, 2016.

Tahun ini, Dewan Juri ARKIPEL social/kapital memutuskan lima kategori penghargaan, yang masing-masing dibacakan oleh perwakilan Forum Lenteng, Otty Widasari (Indonesia), dan empat orang anggota dewan Juri, yakni Hafiz Rancajale (Indonesia), Keiko Okamura (Jepang), Scott Miller Berry (Amerika), dan Ruth Noack (Jerman). Kelima penghargaan tersebut adalah:

Forum Lenteng Award

Dipilih oleh perwakilan anggota Forum Lenteng, yang lantas diputuskan oleh Dewan Juri. Kategori penghargaan ini merefleksikan posisi pembacaan dan sikap kritis kami atas perkembangan karya-karya visual sinematik pada tataran estetika dan konteks melalui filem-filem yang lolos seleksi ARKIPEL. Penghargaan untuk kategori ini diberikan kepada filem yang dianggap paling terbuka dalam menawarkan nilai-nilai komunikatif, baik dari segi artistik maupun konten, yang memberikan peluang bagi pendekatan sosial seni secara berbeda dan lebih leluasa bagi kemungkinan ekperimentasi.

Penghargaan ini diberikan kepada A Lullaby to the Sorrowful Mystery (atau Hele Sa Hiwagang Hapis, 2016) karya Lav Diaz dari Filipina. Penghargaan ini disertai dengan hadiah berupa uang sebesar Rp 5.000.000,-

Lullaby-to-a-Sorrowful-Mystery

Hari ini, konsep Bangsa terus bergerak. Di dalamnya, selalu ada pergeseran identitas, kultur, keragaman. Dan pula di dalamnya, ternyata, mitos merupakan dialek tangguh bagi kita, untuk memahami dunia. Filem ini memberi peluang—bagi sinema—untuk menerjemahkan kembali Bangsa. Realisme dalam sinema menjadi bersifat spasial, dia dilingkupi lanskap, kultur dan tradisi, identitas, memori kolektif, dan mitos.

Jury Short Film Award

Tahun ini, Juri ARKIPEL social/kapital memutuskan untuk menambahkan kategori demi menghormati filem berdurasi pendek di Kompetisi Internasional. Di tengah banyaknya filem berdurasi panjang yang mengesankan dalam kompetisi tersebut, Dewan Juri memiliki rasa yang begitu kuat untuk memberikan pujian kepada An Inaccurate Distance (2015) karya Giovanni Giaretta dari Italia. Penghargaan ini disertai dengan hadiah uang sebesar Rp 2.500.000,-

An-Inaccurate-Distance

Potret oleh Giovanni Giaretta tentang seorang interpreter yang, dengan sulih suaranya sendiri, berbagi mengenai sejarah autodidak dalam mempelajari banyak bahasa. Riwayat hidup sang penerjemah disajikan melalui bidikan-bidikan statis yang terangkai dengan begitu dinamis, serta lewat wadah-wadah sederhana: catatan hariannya, mesin ketik, mesin fotokopi, dan lukisan. Kepekaan Giaretta atas kamera membuat bahasa-bahasa itu menjadi demikian hidup dalam suatu gaya ungkap sinematik personalnya sendiri yang begitu mendalam.

Peransi Award

Peransi Award diberikan kepada karya sinematik yang secara istimewa dan segar mengeksperimentasikan berbagai kemungkinan pendekatan pada aspek-aspek kemediuman dan sosial. Secara khusus, kategori ini difokuskan kepada pembuat filem berusia muda di bawah 31 tahun. Penghargaan terbaik dalam kategori ini terilham dari nama David Albert Peransi (1939–1993), seniman, kritisi, guru, dan tokoh penganjur modernitas dalam dunia senirupa dan sinema dokumenter dan eksperimental di Indonesia.

Penghargaan ini diberikan kepada Kodachrome (2013) karya K-14 Collective (Agatha Corniquet, Julien Doigny, Nicolas Lebecque, Thyl Mariage, Lydie Whishaupt-Claudel) dari Belgia. Penghargaan ini disertai dengan hadiah uang sebesar Rp 5.000.000,-

Kodachrome

Meskipun berlebihan pada bagian akhir filem, Dewan Juri sangat menghargai proyek pribadi oleh sekelompok anak muda yang mendokumentasikan perjalanan mereka ke laboratorium filem Kodachrome terakhir di dunia pada detik-detik sebelum laboratorium tersebut sama sekali berhenti memproses stok filem berwarna legendaris itu selamanya. K-14 Collective telah menciptakan sebuah filem perjalanan tanpa mengandalkan sentimentalitas atau nostalgia dan secara sederhana berbagi kisah tentang perjalanan dari Brussels, Belgia, ke Parsons, Kansas, itu lewat suatu campuran antara humor, kemanusiaan, dan sebuah soundtrak yang tak serempak yang sangat berlapis.

Jury Award

Diberikan kepada filem terbaik versi pilihan Dewan Juri dengan pertimbangan bahwa terdapat kesegaran dan keunikan bahasa sinemanya yang mencapai kematangan personal dalam menyingkapkan dan mengomunikasikan pengalaman estetis dan pergulatan atas konten. Sangat mungkin, tawaran nilai-nilai dalam filem terbaik untuk kategori ini semata-mata bersifat individual oleh karena isu dan pendekatannya tidak selalu berlaku secara umum di beragam konteks budaya dan sosial.

Penghargaan ini diberikan kepada Trêve (2016) karya Myriam El Hajj dari Libanon. Penghargaan ini disertai dengan hadiah uang sebesar Rp 10.000.000,-

Treve

Dewan Juri sangat menghargai bagaimana karya dokumenter ini menyajikan, membingkai, dan menyertakan sudut pandang pribadi dalam sebuah luka sejarah yang tersembunyi rapi di dalam diri dan suadara-saudara kita. Bingkaian yang rendah hati, mengubah tradisi baku dari bentuk dokumenter, ini menjadi hidup di tangan Myriam El Hajj. Trêve (A Time to Rest) berhasil menumbuhkan kompleksitas dari masalah-masalah sejarah. Lokasi menjadi sesuatu yang intim dan membawa kita ke akar kemanusiaan yang membatasi manusia. Kami sangat tersentuh oleh keberanian personalnya. Penghargaan ini diberikan atas pencapaiannya dalam menyajikan bahasa sinematik yang demikian halus di dalam sebuah filem yang mengungkapkan sesuatu yang besar.

ARKIPEL Award

Diberikan kepada filem terbaik utama secara umum yang dalam penilaian Dewan Juri memiliki pencapaian artistik yang tinggi disertai kekuatan potensialnya dalam memaknai pilihan perpektif kontekstualnya. Melalui kontennya, segenap aspek tersebut dalam bahasa visualnya berhasil mengajukan suatu pandangan dunia kontemporer terbaru bagi kita, sebagai wacana yang menantang cara pandang umum atas situasi tertentu yang diungkapkan subjek-subjeknya.

Penghargaan ini diberikan kepada Zone Zero (2015) karya Farzad Moloudi dari Belgia. Penghargaan ini disertai dengan hadiah uang sebesar Rp 10.000.000,-

Zone-Zero

Selama beberapa tahun, beragam kelompok orang-orang yang berasal dari segala konsekuensi kehidupan, mereka yang ditekan oleh keadaan nyata kehidupan ke dalam sebuah bentuk kehidupan sebagai migran ilegal, dan mereka yang mencari cara untuk mewujudkan cita-cita sosial utopis, membentuk sebuah komunitas penghuni liar di jantung Eropa. Zone Zero, karya Farzad Moloudi, mendokumentasikan kehidupan mereka tanpa mengandalkan stereotipe di dalam citra dan wacana, tanpa terjatuh ke lubang perangkap produksi identitas, tanpa bergantung pada penjelasan yang tergesa-gesa. Selalu dekat dengan peristiwa-peristiwa yang terbentang di layar, tetapi tak pernah melampaui batasan-batasan personal. Dengan suatu gairah yang mengharukan, filem ini membiarkan orang-orang, memungkinkan konflik di sekitar sumber-sumber daya terbatas dan pencabutan hak sosial yang muncul di dalam segala kompleksitas, sikap etik si sutradara mengesankan kami, Dewan Juri. Lewat cara sederhana tapi dengan struktur yang disusun sangat luar biasa dan soundtrack yang indah, dokumenter ini menarik penontonnya ke dalam apa yang semestinya dilihat sebagai suatu potret paling relevan mengenai zaman kita saat ini.

English translation:

The ARKIPEL social/capital – 4th Jakarta International Documentary and Experimental Film Festival was officially closed in the GoetheHaus Jakarta, August 26, 2016. A total of 87 films from 25 countries were screened during the festival which was opened on August 19th, 2016.

This year, the juror of ARKIPEL social/kapital decided there were five award categories, each of which was announced by a representative of the Forum Lanteng, Otty Widasari (Indonesia), and the four members of the board of the jury, namely Hafiz Rancajale (Indonesia), Keiko Okamura (Japan), Scott Miller Berry (USA), and Ruth Noack (Germany). These five awards are:

Forum Lenteng Award

As a category for the best film selected by Forum Lenteng, this Award reflects our reading position or critical attitude toward the development of cinematic visual works at an aesthetic and contextual level through the films selected by ARKIPEL. The award for this category is given to the film deemed the most open in offering communicative values, whether based on the artistry and content, providing a chance for a different social approach on art and wider experimental possibilities.

Forum Lenteng Award is given to A Lullaby to the Sorrowful Mystery (or Hele Sa Hiwagang Hapis, 2016) by Lav Diaz from Philippines. The Winner receives Rp 5.000.000,-

Today, the concept of nation keeps on moving. Within it, the concept of identity, culture and diversity are always shifting. And also inside it, the myth has became a strong dialect for us to understand the world. This film gives cinema the opportunity to redefine “nation”. Realism in cinema becomes spatial, it is surrounded by the landscape, culture and tradition, identity, collective memory and the myths.

Jury Short Film Award

This year, the Juror decided to add a category to honor a short film in the International Competition. With so many impressive feature length films in the  Competition, we felt strongly about giving praise to Giovanni Giaretta’s An Inaccurate Distance (2015) from Italy. The Winner receives Rp 2.500.000,-

Giovanni Giaretta’s portrait of an interpreter who, with his own voice-over, shares his self-taught history of learning a multitude of languages. The interpreters’ life history is presented through a dynamic series of static shots and simple pans of his notebooks, typewriters, photocopies and paintings. Giaretta’s caring camera brings languages to life in a deeply personal cinematic language all its own.

Peransi Award

It is given to a special cinematic work and fresh in experimenting various possible approaches to aspects of social and medium-ness. In particular, this category focuses on young filmmaker below 31 years old. This category is inspired from David Albert Peransi (1939-1993), artist, critic, teacher, and advocate of modernity in fine arts and documentary and experimental cinema in Indonesia.

Peransi Award is given to Kodachrome (2013) by the K-14 Collective (Agatha Corniquet, Julien Doigny, Nicolas Lebecque, Thyl Mariage, Lydie Whishaupt-Claudel) from Belgium. The winner receives Rp 5.000.000,-

Although we find the last section of the film superfluous, we greatly appreciate this personal project by a group of young people documenting their journey to the last Kodachrome film lab in the world on the final days before the lab ceases to process this legendary colour film stock forever. The K-14 Collective has created a road movie without relying on sentimentality or nostalgia and simply shares its journey from Brussels, Belgium to Parsons, Kansas with a mix of humour, humanity and a strongly layered non-synchronized soundtrack.

Jury Award

It is given to the best film according to the members of jury in consideration, that there is freshness and uniqueness of the language of expression that reaches personal maturity in revealing and communicating the maker’s aesthetic experience, struggle over the content, as well as subjective exploration of text/context into its current representation. Very likely, values offered in the best film in this category is individual solely because of the issue and the approach does not always apply in general in diverse cultural and social contexts.

Jury Award is given to Trêve (2016) by Myriam El Hajj from Lebanon. The Winner receives Rp 10.000.000,-

The Juror greatly appreciates how this documentary presents, frames, and includes personal perspectives in a historical wound neatly hidden inside ourselves and our relatives. The humble frames transform the rigid tradition of documentary form, becoming lively in the hands of Myriam El Hajj. Trêve (A Time to Rest) successfully brings forth the complexity of historical issues. Site becomes something intimate and brings us to the very root of humanity that limits human beings. We were deeply touched by the young filmmakers personal courage. The Jury Award is given to Trêve for its accomplishment of presenting a delicate cinematic language in a film revealing something grand.

ARKIPEL Award

It is given to the best film in general based on the members of jury’s assessment, which has high artistic achievement with potential strength in sensing the choice of its contextual perspective. Through its content, all these aspects in its visual language successfully proposed a new representation on view of our contemporary world, as counter-discourse towards common perspective on particular circumstance disclosed by its subject matter. The best film in this category, in particular, considerably represents ARKIPEL statement of values offered by enthusiasm and reason of zeitgeist, inspiring the aesthetic invention on world view, which on one side has been generally agreed, but on the other side demands to always be defined and redefined.

ARKIPEL Award is given to Zone Zero (2015) by Farzad Moloudi from Belgium. The Winner receives Rp 10.000.000,-

For a few years, a diverse group of people from all wakes of life, those forced by bare life circumstances into a life as illegal migrants and those in search of ways to realise utopian social ideals, formed a community of squatters in the heart of Europe. Farzad Moloudi”s Zone Zero documents their life together, without resorting to stereotype in image or discourse, without falling into the trap of identity production, without relying on simplistic explanation. Always close to the events unfolding on the screen, but never transgressing personal borders, with a heartwarming passion for letting people be, allowing conflict around limited resources and social disenfranchisement appear in all their complexity, the filmmaker”s ethical stance truly impressed us. With simple means but a superbly edited structure and a beautiful soundtrack, this documentary draws its viewers into what must be seen as a highly relevant portrait of our current times. 

Leave a Comment