Penayangan Program Kurator Muda Asia: Impermanence and Change

 

Sebelas filem dalam Program Kuratorial Siew-Wai KOK, dengan tajuk Ketidakbadian dan Perubahan (atau Impermanence and Change), adalah salah satu hidangan penutup yang manis dari ARKIPEL Grand Illusiom – 3rd Jakarta International Documentary & Experimental Film Festival, 2015.

Mundur satu jam dari jadwal seharusnya, tak menyurutkan antuasiasme penonton mengikuti salah satu Program Kurator Muda Asia ini di GoetheHaus, Jumat Malam, 28 Agustus, 2015. Tepat pukul 20.00 WIB, KOK membuka acara ini dengan menceritakan latar belakang kuratorialnya. “Saya memilih sebelas filem ini karena sudah akrab dan cocok dengan tajuk kuratorial saya,” ujar perempuan asal Malaysia yang juga adalah Direktur dari KLEX (Kuala Lumpur Experimental Film, Video and Music Festival) sejak tahun 2010 itu.

Kesebelas filem tersebut adalah Omakage karya Maki Satake dari Jepang, sebuah dedikasi bagi seni rekaman dan keluarga Satake dengan mengambil banyak foto yang diambil oleh kakeknya ketika ia masih kecil, untuk kemudian mengunjungi kembali tempat-tempat itu dengan panduan foto dari masa lalu; filem kedua, Ruins I karya sutradara asal Malaysia, Au Sow Yee, adalah gambar-gambar abstrak dan terbagi-bagi saling menjalin melalui cahaya dan suara untuk membentuk kenangan almarhumah nenek sang seniman. Masih dari produksi negeri Jiran, Malaysia, filem ketiga besutan seniman video dan performan, Seauhuvi Chan, berjudul Butterfly. Karya yang hanya berdurasi 30 detik ini terdiri dari gambar yang sangat sederhana, namun jelas menggambarkan tentang mortalitas sesaat sebagai sesuatu yang rentan sekaligus kuat. Selanjutnya, Beauty Evaporate karya June Kyu Park dari Korea, menampilkan gambar-gambar yang indah dari pembakaran dan peleburan filem-filem seluloid. Di karya ini, sang seniman mencoba menunjukkan bahwa filem dan sejarah tampaknya perlahan menghilang ke udara.

Lulai karya Lim Chee Yong, asal Malaysia, yang diputar di urutan kelima, adalah dokumenter tentang kehidupan orang-orang Bajau Laut dan Bajau Darat yang bermukim di Pantai Tenggara Sabah, Malyasia Timur. Potret keseharian yang dikemas apik oleh sang seniman, tanpa musik latar, hanya dengan senandung nyanyian dari seorang anak kecil suku itu. Editing yang dinamis, membuat filem tentang orang-orang yang tidak punya kewarganegaraan ini menjadi tidak membosankan seperti dokumenter televisi yang biasa kita tonton. Selanjutnya, Wuttin Chasataboot asal Thailand memakai latar suara detik jam dengan kejadian-kejadian di kota Bangkok pada waktu normal dan pada saat pergolakan politik di sana. Filem berjudul 16 x 9 Capsule ini berusaha mengekspresikan Konsep Buddha bahwa segala seuatu terus meningkat, berdiri dan kemudian berhenti.

Menariknya, di filem ketujuh, KOK memasukkan filemnya sendiri, berjudul Morning, yang ia rekam di dua tempat: Tokyo (Jepang) dan Cyberjaya (Malalysia). Filem yang diawali dengan gambar burung yang mematuki burung lain, dilanjutkan dengan peristiwa kekerasan di pagi hari antara bangkai kucing dan sekelompok anjing yang berebutan menggondolnya. “Saya merekam adegan ini secara spontan. Pada dasarnya, saya juga tidak tahu apa yang sebelumnya terjadi pada kucing tersebut, apakah mati karena kecelakaan atau apa,” ujar KOK, menjelaskan setelah pemutaran filem berakhir. Dirinya berusaha menggambarkan, bahwa sebagai seorang seniman, ia tidak bisa memilih apakah hal yang pertama dilihatnya di pagi hari itu adalah kekerasan. “Saya hanya mengambil kamera, merekam dan menyaksikan kejadian alami tanpa basa-basi, intens dan melampaui moralitas manusia,” tambahnya.

Selanjutnya, kritik bagi ketegangan sosial dan politik di Hongkong tergambar dari filem selanjutnya milik Wong Ping berjudul Under The Lion Crocth. Filem produksi tahun 2011 ini berbentuk animasi warna-warni dengan latar belakang musik yang kotor dan gambar jelek yang tidak senonoh. Gambar alat kelamin laki-laki yang ejakulasi ataupun ketika dipaksa dimasukkan ke dalam alat kelamin perempuan, benar-benar menjadikan filem dengan humor gelap anak muda ini sebagai tontonan yang menyinggung beberapa orang.

Sementara itu, seniman asal Malaysia, Wong Eng Leong, dalam karyanya Mist, memproduksi sebuah video musik dengan gambaran hitam putih yang fade infade out dari sebuah foto yang tidak utuh untuk mengenang demontrasi penting, Bersih 3.0, di negaranya. Sedangkan filem kesepuluh, Between Regularity and Irregularity hasil garapan Masahiro Tsutani asal Jepang, memakai pergerakan yang cepat dari gambar ke gambar untuk memberikan kesan kekacauan dan gerakan yang hebat. Filem tanpa dialog ini mengkombinasikan gerakan cahaya yang teratur dan tidak teratur.

Akhirnya, Semalu karya sutradara Belgia, Jimmy Hendrickx, yang bercerita tentang anak-anak yang tinggal di pinggiran kota Kuala Lumpur, Cheras, menjadi filem penutup yang manis dalam rangkaian acara festival filem ini. Dengan visual menakjubkan dan ritme yang bersifat meditasi, Jimmy berusaha menggambarkan keindahan dan spiritualitas di daerah perkotaan.

Jonathan Manullang, salah seorang kurator pada Program Kurator Muda Asia di ARKIPEL Grand Illusion, yang hadir sebagai penonton, beranggapan bahwa visi dari Siew-Wai KOK terlihat jelas dari pilihan-pilihan filemnya. “Dia (KOK—red) memakai animasi, abstraksi, spiritual, dan kritik sosial dan politik untuk selanjutnya merangkumnya menjadi tema ketidakabadian dan perubahan ini,” ujar penggerak Sinema Rabu itu, berpendapat.

Eleven films in Curatorial Program-Siew Wai Kok, entitled Impermanence and Change, became a sweet dessert of ARKIPEL Grand Illusion – 3rd Jakarta International Documentary & Experimental Film Festival, 2015.

One hour delayed from the supposed schedule, did not recede the audience’s enthusiasm to follow one of Asian Young Curator Program in GoetheHaus, Friday evening, 28 August 2015. Exactly at 20:00 pm, Kok opened the event by explaining the curatorial background. “I chose these films because they’re familiar and fit with my curatorial theme,” said the Malaysian woman who also the director of KLEX (Kuala Lumpur Experimental Film, Video and Music Festival) since 2010.

Those eleven film were Omakage by Maki Satake of Japan, a dedication to the art of recording and Satake family by taking a lot of photos taken by her grandfather when she was a child, and re-visit those places with the photos as the guide of the past; The second film, Ruins I by Malaysian director Au Sow Yee, is abstract images divided and intertwined through light and sound to form the artist deceased grandmother’s memories. Still a production from the Jiran country, Malaysia, the third film made by a video and performance artist, Seauhuvi Chan, titled Butterfly. A film that only lasted for 30 seconds consists of images that are very simple, but it clearly illustrates the temporary mortality as something vulnerable and yet so strong. Next, the Evaporate Beauty by June Kyu Park from Korea, showed beautiful images of burning and melting celluloid films. In this work, the artist tries to show that film and history seem to slowly disappear into the air.

The fifth film, Lulai by Lim Chee Yong, from Malaysia, is a documentary about the lives of the Bajau Laut and Bajau Army people who residing in the Southeast Coast of Sabah, East Malaysia. Everyday life portraits neatly packed by the artist, without any background music, simply by humming singing of a child’s tribe. Dynamic editing, making this film that tell about people who do not have citizenship became far from tedious like regular television documentary that we usually watch. Next, Wuttin Chasataboot from Thailand used the clock ticking sound as background to various events in Bangkok at the normal time and during the political upheaval there. Entitled 16 x 9 Capsule is trying to express the Buddhist concept that all things continue to rise, stand up and then stopped.

Interestingly, in the seventh film, Kok included her own film, entitled Morning, which she recorded in two places: Tokyo (Japan) and Cyberjaya (Malaysia). A film that begins with images of birds pecking other birds, followed by violent events in the morning between carcasses of cats and groups of dogs that were scrambling to take those. “I recorded this scene spontaneously. Basically, I do not know what has previously happened to the cat, whether death due to an accident or something,” explained Kok after the screening ended. She was trying to portray, that as an artist, she could not choose whether the first thing she saw in the morning was violent. “I just took a camera, recorded and witnessing natural events without further ado, intense and beyond human morality,” she added.

Furthermore, criticism of social and political tensions in Hongkong illustrated by the film of Wong Ping titled Under The Lion Crotch. This 2011 production is a colorful animation with dirty background music and obscene ugly images. Pictures of male genitals ejaculated or when forced to be inserted into a female genitalia, really made this young people’s dark humored film as a view that offend some people.

Meanwhile, an artist from Malaysia, Wong Eng Leong, in his work, Mist, produced a music video with a black and white picture which fading in and fading out of a photo that is not intact, to memorize an important demonstration, Bersih 3.0, in the country. While the tenth film, Between Regularity and Irregularity, work of Masahiro Tsutani from Japan, using a rapid movement from one picture to another to give the impression of chaos and great movement. Without any dialogue, this film combines regular and irregular light movements.

Finally, Semalu by Belgium director, Jimmy Hendrickx, tells the story of children who live in the suburbs of Kuala Lumpur, Cheras, became the cherry on top for this series of film festival. With stunning visuals and meditating rhythm, Jimmy tried to describe the beauty and spirituality in urban areas.

Jonathan Manullang, one of the selected for Asian Young Curator Program in ARKIPEL Grand Illusion, who attended as spectators, had a opinion that the vision of the Siew-Wai Kok is clearly visible from the choices of her films. “She (Kok-ed) used animation, abstraction, spiritual, and social and political criticism to be further summarized in this theme of impermanence and change,” said the guy behind Sinema Rabu, argued.

 

Leave a Comment