CP  SOUTH ASIA 4/ THU. 18 SEP, 16.00 / CINEMA XXI – TIM

"At Five In The Afternoon", Samira Makhmalbaf (Iran)

[divider type=”space” height=”40″ no_border=”1″ /] [column type=”1/3″ last=”0″ class=””]

16+

Country of production Iran / France
Language Persian
Subtitle English
105 min, Color, 2003

[/column] [column type=”1/3″ last=”0″ class=””]

Pasca keruntuhan pemerintahan Taliban,  tidak hanya norma-norma tradisional yang masih aktif dan fungsional namun juga ingatan massal akan pengetahuan yang diproduksi oleh pemerintahan diktator. Keruntuhan yang menyebabkan warlordisme di Afghanistan menyebabkan berbagai narasi kepentingan kelompok kecil saling  memperebutkan ruang publik. Dalam pergesekannya, wacana mengenai perempuan merupakan hal yang masih riskan diperbincangkan.  Filem ini merupakan bagaimana sinema menjadi sangat konteks dalam ruang transisional tersebut. Dengan format fiksi dan karakter Nogreh, gadis Afghani yang cukup representatif bagi perempuan Afghan, filem ini menegasi struktur hierarki yang telah disepakati.

 Bunga Siagian & Afrian Purnama

[/column] [column type=”1/3″ last=”1″ class=””]

After the down of Taliban dictatorship, not only traditional norms which still remained exist and function but also the collective memory of knowledge produced by dictatorial regime. The downfall led to warlordism in Afghanistan also then brought an impact where overall narration of interest of small groups vied with each other the public space. In that friction, the discourses regarding to women was still risky to discussed. This film tells how the cinema come to be highly contextual to the transitional space itself. In the form of fiction and present the character of Nogreh, Afghan girl that represented the Afghan women, it denies the structure of the taken-for-granted hierarchy.

 Bunga Siagian & Afrian Purnama

[/column]

Leave a Comment