SEBAGAIMANA TRADISI YANG dibangun ARKIPEL – Jakarta International Documentary and Experimental Film Festival sejak 2014, Forum Festival—salah satu program utamanya—diadakan tiap tahun, mengundang para pelaku kebudayaan dan lintas-disiplin untuk merayakan sinema lewat suatu simposium, membicarakan dan memetakan perkembangan sinema terkini, baik di lingkup lokal maupun global. Setidaknya, terdapat 5 panel yang akan diadakan selama dua hari, 18-19 Agustus 2017, berporos pada tiga isu utama: “aktivisme film”, “kritisisme film”, dan “komunitas dan jaringan perfilman”.

Tahun ini, dengan tema besar “Penal Colony”, ARKIPEL – Jakarta International Documentary and Experimental Film Festival 2017 membuka kesempatan bagi seluruh pegiat kebudayaan di Indonesia dari berbagai disiplin untuk berpartisipasi menyajikan pandangan-pandangan visionernya mengenai perkembangan sinema nasional, regional, dan global. ARKIPEL Penal Colony membuka pendaftaran untuk dua panel Forum Festival: “Anonimitas, Amatirisme, dan Habitus Gambar Bergerak” dan “Platform Kolektif Filem sebagai Agenda Katalis”. Dari sekian calon panelis yang mendaftarkan diri, ARKIPEL akan memilih dua proposal yang paling sesuai dengan arah tema festival, untuk diikutsertakan dalam dialog intelektual bersama dengan para panelis undangan pada Forum Festival ARKIPEL Penal Colony.

ARKIPEL juga akan membuka pendaftaran bagi perwakilan komunitas-komunitas di seluruh Indonesia, untuk menghadiri Forum Festival ARKIPEL Penal Colony. Pendaftaran ini terbuka untuk umum dan tidak dipungut biaya.

AS TRADITION ESTABLISHED by ARKIPEL since 2014, Forum Festival—as one of major programs of ARKIPEL – Jakarta International Documentary and Experimental Film Festival—is held annually by inviting a number of cultural and cross-disciplinary actors to participate in celebrating cinema through a symposium-like meeting forum, in order to discuss and map the latest progress in cinema, both locally and globally. There will be at least five panels in two days, 18-19 August 2017, which pivot on three main issues: “film activism,” “film criticism,” and “community and networks”.

This year, the theme is “Penal Colony“, ARKIPEL – Jakarta International Documentary and Experimental Film Festival 2017 provides an opportunity for cultural activists in Indonesia from various disciplines to participate and present their visionary views on the development of national, regional, and global cinema. ARKIPEL Penal Colony opens registration for two panels, namely “Anonymity, Amateurism, and Habitus of Moving Images” and “Platform of Film Collective as Catalytic Agenda“. Of the candidates who registered, ARKIPEL will choose two proposals that best fit the direction of the festival theme, to be included in intellectual dialogue with other invited panelists at ARKIPEL Penal Colony‘s Festival Forum.

ARKIPEL will also open registration for representatives of communities/collectives throughout Indonesia, to attend the ARKIPEL Penal Colony Festival Forum. This registration is open to the public and free of charge.

PILIHAN PANEL

TOPIK 01 - Anonimitas, Amatirisme, dan Habitus Gambar Bergerak

Kini, produksi, reproduksi, dan distribusi gambar bergerak telah lepas dari belenggu elitisme yang selama ini membatasi peluang bagi penemuan bahasa-bahasa visual vernakular. Bahkan, lebih jauh melompat dari apa yang sebelumnya pernah membuat masyarakat terperangah soal kehadiran TV (video), kebebasan teknologis kontemporer zaman sekarang mengubah drastis kebiasaan-kebiasaan masyarakat dalam mencipta dan mengonsumsi gambar bergerak.

Merekam tidak lagi hanya mengandalkan mata yang dilekatkan pada viewfinder kamera, tetapi layar digital masa kini memungkinkan gerak tubuh pengguna menjadi lebih aktif—dengan teknologi mobile, kualitas gambar dapat dipantau hanya dengan menggenggam alat itu di tangan, atau meletakkannya di suatu tempat dengan jarak tertentu dari tubuh, bersamaan dengan fungsi tombol rekam yang dapat berjalan secara otomatis. Fasilitas teknologi komunikasi yang dimediasi dengan basis komputer dan jaringan internet, membuka seluas-luasnya kreativitas dan kesempatan untuk berbagi aneka konten informasi kepada siapa pun. Batas antara “identitas personal yang jelas” dan “kehadiran secara anonim” di dunia virtual sudah semakin samar, seturut dengan semakin menipisnya perbedaan bentuk dan praktik “yang amatir” dengan “yang profesional”. Karena akses terhadap perangkat elektronis canggih ini sudah sedemikian mudah, semua orang memiliki daya yang sama dalam selebrasi dan mengamini kebiasaan manusia sehari-hari yang, bisa dibilang, hampir tak akan pernah berjarak lagi dengan gambar bergerak.

Peristiwa-peristiwa mutakhir menegaskan pula bahwa revolusi teknologi media ini memiliki relasi signifikan dengan revolusi-revolusi yang nyata di lingkungan global. Anonimitas dan keamatiran, di satu sisi mengindikasikan suatu fobia tentang pengawasan, kontrol, dan risiko, tetapi sekaligus juga memberikan kepastian bagi realisasi upaya-upaya subversif. Di sisi yang lain, kedua hal itu seakan mengizinkan sebuah transformasi ke arah identitas kolektif yang berkonsekuensi berupa perubahan format dari inisiatif masyarakat yang beragam. Fenomena ini mengharuskan amatan yang teliti demi meraih kosakata-kosakata dan artikulasi-artikulasi baru. Lantas, bagaimana perspektif sinema melihat hal ini, dan sebaliknya, bagaimana pula pandangan kritis atas hal itu berkontribusi bagi pengembangan wacana sinema yang tampaknya telah menunjukkan keengganannya untuk terus bertahan di dalam ruang gelap saja?

TOPIK 02 - Platform Kolektif Filem sebagai Agenda Katalis

Inisiatif berkelompok dengan maksud mewujudkan ruang tontonan, saluran distribusi produk, kanal informasi/pengetahuan, dan forum perbincangan tentang filem dan sinema, baik untuk lingkungan lokal maupun cakupan yang lebih luas, haruslah dipahami sebagai kebutuhan terpenting demi meningkatkan daya tawar (dan merangsang kedinamisan) medan perfileman nasional di kancah global. Terma “kolektif” dalam konteks forum ini merujuk kepada entitas yang berani bergerak di luar arus utama industri; entitas yang tidak terjebak pada sindrom yang membuatnya berpikir hanya ingin membuat semata-mata produk filem saja. Agaknya, sampai saat ini, kepada keuletan kelompok yang tetap membawa spirit “pendidikan alternatif”-lah kita bisa berharap tentang perbaikan bagi mesin lingkaran wacana perfileman yang sudah terlanjur lama mengalami krisis di wilayah kritik dan penelitian akademik, serta krisis kesadaran terhadap hal-hal historik di samping kurangnya pemahaman mengenai fundamen-fundamen pengetahuan sinematik.

Sesungguhnya, inisiatif yang melanggengkan spirit itu mengalami peningkatan trend pada aspek tertentu, terutama kuantitas, sehingga membutuhkan aneka tafsir visioner agar bisa ditemukan formulasi paling taktis dan strategis untuk mengisi kekosongan yang ada pada mesin wacana kita. Tafsir ini umumnya berangkat dari melihat secara jeli bagaimana inisiatif-inisiatif itu dapat saling terhubung, dan bagaimana keterhubungannya membentuk sebuah jaringan pengetahuan arus bawah yang dapat mengimbangi—kalau bukan mengurangi—pola pikir dominan yang selama ini menghambat progresivitas perfileman nasional. Selain itu, melihat “kolektif filem” (atau “komunitas filem”, atau “organisasi yang berkegiatan di ranah film”, baik dalam skala kecil maupun besar) sebagai sebuah platform, berarti mengamini adanya tindakan terprogram dan terkurasi yang diagendakan oleh kolektif tersebut. Apa pengalaman atau argumentasi yang layak ditawarkan sebagai pemikiran—yang tidak hanya sekadar diimajinasikan, tetapi juga bisa diimplementasikan—dalam rangka mengembangkan agenda-agenda progresif sebuah kolektif filem? Dan bagaimana kemudian posisi tawar dan aktivitas sebuah kolektif filem bisa menjadi katalisator bagi pertumbuhan dan perluasan bentuk dari inisiatif-inisiatif lanjutan, selain sebagai pengaktivasi lokalitas tempat kolektif filem itu sendiri berada?

CHOOSE A PANEL

TOPIC 01 - Anonymity, Amateurism, and Habitus of Moving Images

Now, the production, reproduction, and distribution of moving images have been detached from the shackle of elitism which had been limiting opportunity for discovery of vernacular visual languages. In fact, leaping further from what had previously made people aghast about the presence of TV (video), contemporary technological freedom today drastically alters people’s habits in creating and consuming moving images.

Recording activity is no longer relying solely by putting your eyes on the camera’s viewfinder, but nowadays’ digital screens allow the user’s body movement become more active—using the mobile camera, we can monitor the quality of image just by holding the device at our arms, or put it somewhere at certain distance from our body, in the same time with the function of record button running automatically. The computer-mediated and internet-mediated communication technologies open the widest possible creativity and opportunity to share multi-content of information to anyone. The difference between definite personal identities and anonymously presence in the virtual world has become vague, just like how amateur’s practice and form of work right now has seemed no difference with professional’s. Due to it has been so easy to access those sophisticated electronic device, everybody has equal power in celebrating and adapting the new daily habits of human being that, practically speaking, is almost never escape from moving images.

Recent occurrences also confirm that the revolutionary form of these media technologies have significantly relate to the real revolutions in our global environment. Anonymity and amateurism on the one hand indicate a phobia about surveillance, control, and risk, but also provide certitude to the realization of subversive actions. On the other hand, both seem to permit a transformation toward a collective identity that consequently lead to a change of formats of diverse community initiatives. This phenomenon requires a careful observation in the framework of obtaining new vocabularies and articulations. In that case, how does cinematic perspectives understand this phenomenon? Or vice-versa, how does our critical views about this circumstance contribute to the development of discourse on cinema which seems to have shown its reluctance to keep only the dark space?

TOPIC 02 - Platform of Film Collective as Catalytic Agenda

Group initiatives in the framework of creating the screening space, distribution channels, information/knowledge sources, and discussion forum on film and cinema, both for local environment and wider scope, should be understood as the most important need to increase the bargaining power (and stimulate dynamism) of national cinema in the global scale. The term “collective” in the context of this forum refers to entities that bravely move outside the mainstream industry; entities that do not get caught up in a syndrome that causes its members just want to merely produce filmworks. To bid fair, it’s the tenacity of the groups which continuously bring the spirit of “alternative education” we can expect for in order to correct our cinema discourse system that has been too long experiencing a crisis of criticism and academic research while there’s also crisis of awareness on film history as well as the lack of understanding of fundamental knowledge on cinematic theories.

In fact, the initiatives who take care of that spirit has actually increased in certain aspects, especially in terms of quantity. Therefore, we need various visionary interpretation in order to achieve the most tactical and strategic formulation to deal with the incompleteness of our discourse system. Such interpretation may be able to start by examining carefully how all of them could be interconnected each other, and how their intersection then forms a network of undercurrents knowledge which is able to counter—if not to subtract—a dominant mindset hampering the progressivity of the national cinema. In addition, addressing a “film collective” (or “film group” or “organization engaged in activities related to cinema”, both on small and large scale) as a platform means we are agreeing that there should be programmed and curated action carried out by the collective itself. What experience and argument is worth to be suggested—not only imaginable, but it can also be implemented—in the framework of developing progressive agendas for film collectives? And how can their bargaining position and their activities catalyze further initiatives, as well as activate the locality of place where the film collectives belong?

SYARAT & KETENTUAN / TERMS & CONDITIONS 

Syarat Umum:

1. Warna Negara Indonesia
2. Bertempat Kedudukan di Indonesia.
3. Bersedia mengikuti kegiatan Forum Festival sampai selesai.
4. Disediakan transportasi pulang – pergi dan penginapan di sekitar venue selama empat malam

Ketentuan Wajib Pengiriman Materi Presentasi:

1. Pendaftar boleh memilih salah satu atau kedua Topik Panel yang disediakan
2. Mengirimkan Abstraksi sepanjang 300 kata
3. Mengirimkan makalah utuh (jika sudah ada) sepanjang maksimal 2000 kata
4. Isi Abstraksi dan makalah sesuai dengan standar penulisan karya tulis ilmiah
5. Mengirimkan kedua materi di atas dalam bentuk file Word.docx
6. Format nama file: NAMA PANELIS-NO TOPIK-JUDUL

General Terms:

1. Indonesian citizenship.
2. Reside in Indonesia.

3. Agree to take part in all activities during Festival Forum
4. ARKIPEL will provide return transportation & accommodation for four nights around the venue.

Required Conditions:

1. Applicant may choose one or both of the Topics.
2. Abstracts length is 300 words
3 Full paper is 2000 words maximum
4. The Abstract/Paper must be in accordance with the standards of scientific papers
5. Send the file in the format of Word.docx
6. Please name the file: AUTHOR’S NAME-TOPIC NUMBER-TITLE OF PAPER

Formulir / Form

Tenggat Waktu / Deadline

  • 00 days
  • 00 hours
  • 00 minutes
  • 00 seconds

Leave a Comment

Contact Us

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, asap.

Not readable? Change text. captcha txt

Start typing and press Enter to search

X