Pengantar oleh Manshur Zikri

ARKIPEL – Jakarta International Documentary & Experimental Film Festival 2016 menginisiasi satu program baru, “Candrawala – local landscape of now”. Program yang berlaku setiap tahun sebagai bagian dari festival ini ditetapkan lewat suatu pendekatan kuratorial yang berfokus pada fenomena visual terkini dari produksi gambar bergerak di konteks lokal Indonesia. Target program yakni upaya untuk menemukan, memetakan, dan mengartikulasikan diskursus budaya visual kita, khususnya perkembangan sinema terakhir, di tengah arus tanda beragam lintas keranahan yang terus-menerus memengaruhi pandangan mengenai sinema di lingkup global.

Candrawala didefinisikan sebagai pembacaan mengenai lokusi visual pada karya gambar bergerak (filem) yang dimaknai berdasarkan visi program ini: mementang parafrasa atas idiom-idiom yang luput dari sentra pengamatan kita, demi pengembangan kesezamanan bahasa sinema. Etimologis, Candrawala adalah gabungan dua kata dari bahasa Sansekerta. Kata ‘candra’ umumnya diartikan sebagai ‘bulan’, tapi juga dimaknai sebagai ‘a lovely or agreeable phenomenon of any kind’ (Monier-Williams Sanskrit-English Dictionary, 1899, hal. 386). Dalam Kamus Bahasa Indonesia (Pusat Bahasa, 2008), kata tersebut juga diartikan sebagai ‘nilai atau makna yang tersirat di balik yang tersurat’ (hal. 258); sementara ‘mencandrakan’ diartikan sebagai ‘menggambarkan’ (KBBI daring). Sementara itu, kata ‘wala’ sengaja dipenggal dari kata cakrawala (atau cakravala, agaknya itu perubahan bentuk dari kata cakravālaṁ) yang berarti ‘horizon’. Tapi kata tunggal ‘vala’ sendiri juga berarti ‘enclosure’ dalam bahasa Inggris (Monier-Williams Sanskrit-English Dictionary, 1899, hal. 927).

Filem-filem yang dipilih ke dalam program ini mewakili horizon tentang kecenderungan karya-karya yang gaya ungkapnya periferal terhadap pandangan pokok, tetapi eksis sebagai ragam ekspresi visual pada lereng tertentu dalam lanskap sinema kita, khususnya terkait hal bagaimana para pencipta karya menunjukkan preferensi tertentu seiring kualitas kesadaran mereka dalam menyikapi konsep sinema beserta lingkup diskursus yang ada. Candrawala mencoba membuka kemungkinan penemuan bahasa yang paling sesuai pada facet tersebut, serta mengartikan posisi temuan itu dalam kosmos sinema kawasan maupun global.

Introduction by Manshur Zikri

ARKIPEL – Jakarta International Documentary & Experimental Film Festival 2016 initiates a new program, namely “Candrawala – local landscape of now“. The program will be applied every year as part of the festival and is set through a curatorial approach which concern with the recent visual phenomena of moving-image production in Indonesia. The target of this program is means for finding, mapping and articulating our visual discourse, particularly the latest development of cinema, among contemporary cross-disciplined symptoms which are continously affecting the perspectives on cinema in global context.

Candrawala is defined as exposition of visual locution on the works of moving image (or movie) which are interpreted based on the program’s vision, to wit: extending the paraphrase of the lost idioms in our central observation, for the sake of development of contemporaneity of cinema language. Etymologically, Candrawala is a combination of two Sanskrit words.  The word ‘candra’ is generally translated as ‘moon’ but also defined as ‘a lovely or agreeable phenomenon of any kind’ (Monier-Williams Sanskrit-English Dictionary, 1899, p. 386). In Kamus Bahasa Indonesia (Pusat Bahasa, 2008), that word was also translated as ‘value or meaning that is implicitly behind the inscribed words’ (p. 258); whereas ‘mencandrakan’ means ‘depicting’ (KBBI online). Meanwhile, the word ‘wala’ is purposely taken from the word ‘cakrawala’ (or cakravala, presumably derived from cakravālaṁ) that means ‘horizon’. However the single word ‘vala’ itself also means ‘enclosure’ in English (Monier-Williams Sanskrit-English Dictionary, 1899, p. 927).

Some films that will be showcased in this program represent a horizon of trend of the works whose locutions are peripheral to the main angle, but they exist as a kind of visual expression at certain incline in our cinema landscape, particularly related to how the creators showed a particular preference as the quality of their consciousness in addressing the concept of cinema as well as the scope of its existing discourses. In that facet, Candrawala aims to open up the possibility for appropriate language findings, as well as to make the position of them be significant in the world of regional and global cinema.

01-DIASPORA---Generasi-Sekian

DIASPORA: Generasi Sekian (Vonny Kanisius, 2015, 19mins 2secs)

02-Astronot

Astronot (Syarief M. Ibrahim, 2016, 9mins 51secs)

03-Mata-Elang

Mata Elang (Wisnu Dewa Broto, 2016, 21mins 20 secs)

04-Gelombang-Longitudinal

Gelombang Longitudinal (Ali Satri Efendi, 2016, 4mins 29 secs)

05-Jembatan-Sibuk

Jembatan Sibuk (David D., 2016, 8mins 53secs)

Leave a Comment