Konjugasi: Bertanya-tanya Sembari Menemukan Hal Baru

 

Filem-filem yang diputar pada Kompetisi Internasional kali ini memiliki tema “Konjugasi”. Semuanya berbicara soal bentuk sinema itu sendiri, terutama kaitannya dengan waktu.  Bagaimana masa lalu dan masa depan bisa menjadi sebuah masa kini lewat filem. Ia menjadi sebuah peristiwa yang hadir.

Ada empat filem yang diputarkan di GoetheHaus, Goethe Institut Jakarta pada 21 Agustus, pukul 16.00 itu. Keempatnya adalah hasil kurasi dari kritikus filem dan seni serta redaktur utama Jurnal Fotage Akbar Yumni. Kurang lebih ada 20 penonton yang hadir pada program tersebut.

img_4697

Dalam filem pertama yang berjudul Something Horizontal, penonton diajak untuk mengalami sebuah bentuk filem yang dibangun dari potongan gambar-gambar bidang yang dimainkan dengan berbagai sekuen. Pada filem karya Blake Williams dari Kanada ini, penonton diminta menggunakan kacamata 3D untuk bisa menyaksikan keseluruhan filem. Sebuah footage hitam-putih dimasukkan pada bagian akhir filem. Kesan keseluruhan yang didapat setelah menonton filem tanpa subteks ini ialah rasa pening dan horor yang tak terjelaskan.

Masih dengan perasaan pening, filem kedua yang berjudul The Invention of The Year 2016 karya Jean Seban dari Perancis ditayangkan. Ia menyajikan 12 penemuan pembuat filem yang dikumpulkan sejak tahun 2013 hingga pertengahan tahun 2014 ke dalam sebuah filem. Jean Seban membidik banyak aktivitas dalam keseharian dan menyajikan sosok-sosok dari kesehariannya ke dalam filem ini. Karya seni musik kenamaan banyak diputar di filem ini. Begitu pula teks yang terlihat muncul seolah bukan pada tempat yang semestinya. Menurut percakapan singkat dengan Akbar Yumni, teks-teks tersebut merupakan bagian dari permainan bentuk bahasa sinema. Tradisi interteks ini sebetulnya merujuk pada tradisi sinema era filem bisu yang kemudian dimainkan menjadi bentuk yang sepenuhnya visual.

img_4699

img_4698

Selanjutnya, karya Bruna Carvalho de Almeida dari Brazil yang berjudul Correspondêcias Do Front (Letters From War). Filem yang berlangsung selama 13 menit ini sepenuhnya berwarna hitam-putih. Pemandangan sebuah kota hadir di sepanjang filem seolah sang pengambil gambar tengah melakukan perjalanan. Sebuah narasi yang berisi korespondensi seorang anak dan ayahnya mengiringi pergerakan pemandangan kota dalam filem ini. Menjadikan keseluruhan filem bagaikan sebuah penyusuran terhadap momen penulisan surat yang hadir di momen kini.  Ada rasa jemu sekaligus kecemasan yang lahir setelah menonton filem ini. Seolah kerinduan untuk bercakap pada kerabat di kejauhan pun turut hadir di antara layar dan realita.

Namun, segala jemu dan pening segera pecah begitu filem terakhir dimulai. Karya Manuel Saiz yang berjudul Subtitle without Learning berlangsung hanya 6 menit. Sepanjang filem, penonton kerap tertawa. Saya pun turut terbahak ketika menonton filem ini. Karya seniman asal Spanyol ini meletakkan subteks menjadi bagian dari visual filem itu sendiri. Sang pembuat filem menjadi aktor pendukung yang terus-menerus menarik keluar gulungan subteks yang ditulis manual selagi ia berbicara. Pun kemudian, dikatakan bahwa subteks malah menjadi peran utama dari keseluruhan filem ini. Tak ayal, saya pun mempertanyakan kembali posisi subteks dalam bentuk dan bahasa sebuah filem.

Setelah pemutaran filem, sembari masih bertanya-tanya  dan mencatat penemuan ini, saya melemparkan diri ke bantal-bantal di serambi Goethe Institute yang tampak empuk sekali. Barangkali, bukan hanya interteks saja yang bisa menjadi bagian dari bahasa visual filem. Bahkan, sekuens permainan gambar, peletakan footage dan penarasian bisa menjadi sebuah bentuk visual tersendiri yang menguatkan potensi filem untuk menghadirkan apa yang telah lalu menjadi sebuah kehadiran.

Conjugation: Wondering While Finding New Things

 

The films screened in the international competition this time brought up Conjugation as their theme. All of them talked about the form of the cinema itself, especially its relation to time. How the past and the present are potentially place in the present through films. They become something present through it. There were four films screened in Goethe Haus on that August 21st at 4 PM watched by 20 audiences. They were well curated by Akbar Yumni; a film critic and the main redactor of Jurnal Footage.

In the first film entitled Something Horizontal, the audiences were invited to experience a form of film built from pieces of surface images played through various sequence. In this work of Blake Williams from Canada, the audiences were asked to wear 3D glasses to watch the entire film. A black and white footage was played in the last part of the film. Giving such giddy and goose bump feelings after watching this no-subtitle film.

Still with such giddy feeling, The Invention of the Year 2016 from a French director Jean Seban was screened as the second film. It showed the director’s 12 inventions collected since 2013 until middle 2014 and compiled into a film. Jean Seban aimed at various daily activities and exposed figures from his daily life in this film. Many renowned music artworks played along the film. Some texts often appeared in the film as if they were out place. But according to the conversation with the curator of this program Akbar Yumni, those texts are part of the performance of the cinema language. This intertitle style indeed refers to the cinema tradition in silent film era which then performed into an entirely visual form.

After that, the work of Bruna Carvalho de Almeida from Brazil entitled Correspondêcias Do Front (Letters from War) was screened. This 13 minutes film was entirely black and white. A landscape of a town was being presented along the film as if the shooting was done in the middle of a trip. A narration about correspondence between a daughter and her father goes along that landscape shift in the film. Making the whole film seems like a journey to the moments of that letter writing.  They become present. There was an anxiety and saturated feelings after watching this film. As if the longing to talk to relatives in the distance also emerged between the screen and the reality.

But all of those giddy and saturated feeling were soon gone away when the last film started. The work of Manuel Saiz entitled Subtitle without Learning only took 6 minutes long. However the audiences keep laughing during the film. I also laughed al lot during the screening of this film. This work of Spaniard artist put subtitle into a visual of the film. The filmmaker turns into a supportive actor that keeps rolling out handmade subtitle during his monologue. In it, he said that the subtitle was indeed the main actor of this film. Then suddenly and silently I also question the position of subtitle within the language and the form of a film.

After the screening, I tossed myself to beanbags in the foyer of Goethe Haus while wondering and taking notes about my findings from the screening. Probably, not only intertitle that can be a part of the visual language of the film. Even the sequence of image performance, footage placement and the narration of the film itself can be a distinctive visual form that might strengthen the potency of the films to present what was past to be a presence.

Leave a Comment