Country of Production: Indonesia
Language:Sasak, Bahasa Indonesia
Subtitles: English
24 min, Color, 2013

Agenda:
25/08/2013
GoetheHaus
19.0026/08/2013
kineforum
19.00

Elesan Deq a Tutuq (Jejak yang Tidak Berhenti) merupakan sebuah filem dokumenter feature keempat Forum Lenteng. Filem ini mengisahkan tentang dua generasi berbeda yang masing-masing diwakili oleh satu tokoh yang memiliki pergaulan sosial cukup luas di masyarakat Pemenang. Filem ini mencoba mendedah bagaimana situasi sosial masyarakat Sasak sekarang ini dalam menghadapi banjir kebudayaan dunia dalam satu kawasan. Wisatawan-wisatawan asing yang keluar-masuk membawa berbagai macam informasi dan budayanya berbaur atau berbentur dengan tradisi-tradisi lokal masyarakat di Pemenang dan memberikan berbagai macam pilihan gaya hidup ataupun ideologi.

Masuknya penyebaran Islam di Indonesia bisa di tandai awanya mulai abad ke 15 hingga 16. Sebutan mubaligh atau penyebar agama bisa dikategorikan beberapa nama, yakni, syekh, kiai, ustadz, penghulu dan tuan guru. Istilah untuk yang terakhir, Tuan Guru, masuk di Lombok mungkin bisa ditelusuri sejak abad ke 18.

Gelar Tuan Guru merupakan kedudukan sosial yang tinggi dalam struktur masyarakat Sasak. Gelar tersebut merupakan pemberian masyarakat atas pengetahuan keislaman yang dimiliki, kealiman, kepribadian, pengayoman dan kharismanya dalam masyarakat. Kehidupan agama dan syarat tradisi menempel dalam berperilaku Tuan Guru dalam beraktivitas ke masyarakatnya.

Elesan Deq a Tutuq (The Unfinished Stream) is Forum Lenteng’s fourth feature documentary film. This film tells the story of two different generations, each of which is represented by a character who has a fairly extensive social interaction in the community Pemenang. This film tries to examine how social situations in Sasak people today in the face of a flood of world culture in that region. Foreign tourists who come and go, and carry a wide range of information and culture, mingling or colliding with local traditions in Pemenang. They also bring an assortment of lifestyle choices and ideologies.

The entry and the spread of Islam in Indonesia can be marked and it started circa 15th to 16th century. Designation of preachers or missionaries can be categorized by several names, sheikh, cleric, priest and Tuan Guru. The term for the latter, Tuan Guru, entered in Lombok could be traced since the 18th century.

The title Tuan Guru is a high social position in the structure of the Sasak people. The title is given by the people to someone whom providing or having Islamic knowledge, wisdom, personality, and charisma in the society. Religious life and the conditions attached to the tradition of how Tuan Guru behaves in his daily activity in the society.

director: Syaiful “Paul” Anwar
co-director: Gelar Agryano Soemantri, Muhammad Sibawaihi

CO-DIRECTORS

Muhammad Sibawaihi lahir pada 20 Mei 1988. salah satu penggiat Komunitas Pasir Putih – Lombok Utara, dan seorang guru. Elesan deq a Tutuq adalah filem dokumenter feature pertamanya. Dia aktif menulis di jurnal www.akumassa.org.

Muhammad Sibawaihi born in May 20th, 1988. One of Pasir Putih Community (North Lombok) activist and a teacher. Elesan deq a Tutuq, was his first feature documentary film. He also active as a writer at www.akumassa.org journal.

Gelar Agryano Soemantri lahir di Cianjur, 31 Januari 1986. Ia menyelesaikan Strata 1 ilmu komunikasi di Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik di tahun 2009. Aktif sebagai anggota Forum Lenteng dan salah satu fasilitator dalam program akumassa. Tahun 2010, “Yang Taksa” adalah pameran seni media pertamanya di Institut Francais Indonesia. Karya terbarunya adalah filem dokumenter feature: Elesan deq a Tutuq.

Gelar Agryano Soemantri was born in Cianjur on January 31st, 1986. He finished his study in Journalism at Institute of Social and Politics Science in 2009. He is now actively involved at Forum Lenteng and as one of the facilitators in akumassa program. In 2010, his first media art exhibition was held at Institut Français Indonesie. Elesan deq a Tutuq is his latest feature documentary.