Estetika Kenyataan, Realisme Publik?

Obsesi sinema menjangkau ‘yang nyata’ (the real) bukanlah persoalan baru. Sejak fotografi ditemukan hingga filem Lumière Bersaudara ditayangkan kepada publik, teknologi reproduksi kenyataan itu telah dituduh merebut ‘yang nyata’ (the real). Apalagi ketika filem bicara lahir, sinema mencapai polemiknya terhadap usaha-usaha mencapai ‘yang nyata’ sampai lahirnya genre realisme pada sinema usai Perang Dunia I. Sinema berusaha sekuat tenaga dengan berbagai macam moda produksi hingga bahasa estetika untuk menghadirkan ‘yang nyata’ apa adanya dengan tidak menjadikan ‘kenyataan’ (reality) hanya sebagai sarana. Pada Neo Realisme Italia, André Bazin mengatakan bahwa, “Tak satu pun [tokoh] yang dipersempit menjadi keadaan atau simbol sehingga penonton bisa membenci mereka tanpa harus bersusah payah memahami terlebih dahulu ketaksaan dunia manusia yang ditampilkan.” Neo Realisme Italia lebih ke arah realitas sebagai sebuah impian, atau sesuatu yang di luar norma yang dominan. Di sisi lain, perkembangan genre dokumenter yang dikatakan ‘lebih mendekati’ pada ‘yang nyata’ mencapai titik kejenuhan estetika di masa paska Perang Dingin hingga muncul pernyataan bahwa fiksi dikatakan sebagai genre yang paling mendekati ‘yang nyata’, melalui jargonnya “berdasarkan kisah nyata”. Jargon ini kemudian mendiamkan kita pada sebuah situasi tentang kehadiran ‘perspektif teknologi’ dan juga sosok yang merujuk pada kepentingan si perekam di belakang teknologi itu, sekalipun dalam rekaman dokumenter. Dari sinilah kita kemudian berhadapan dengan situasi tentang sebuah pergeseran ‘yang nyata’. Kita sedang mencurigai bahwa ‘kenyataan’ (reality) yang kita alami di dunia ini sebenarnya adalah sebuah ilusi yang dikonstruksi. Lalu pertanyaan yang muncul kemudian, apakah sinema semakin menjauh dari ‘yang nyata’?

Dalam dua filem feature dokumenter, Disorder karya Huang Weikai dan Petition karya Zhao Liang, kita dihadapkan pada bagaimana sinema berperan dalam menangkap ‘yang nyata’ (the real). Moda produksi dan bahasa estetika ‘kenyataan’ (reality) yang digunakan oleh Huang Weikai dan Zhao Liang berusaha mereduksi dan menghancurkan peran ‘perspektif teknologi’. Tentu saja hal ini tidak mungkin bisa dilakukan tanpa situasi sosial yang memadai. Dengan kata lain, situasi ‘yang nyata’ masyarakat Cina dewasa ini sangat mungkin mendorong bahasa estetika ‘kenyataan’ (reality) dalam sebuah filem dokumenter.

Realism Aesthetics vs Public Realism?

Cinema obsession to reach ‘the real’ is not a new issue anymore. Since photography was invented and Lumière Brothers’ movie was shown to the public, a technology to reproduce reality had been accused for seizing ‘the real’. Especially, when talking motion picture was born, cinema reached its polemic against the efforts to grab ‘the real’ until the birth of realism in cinema after World War I. Cinema bend over backwards through the variety production modes to aesthetics language to bring ‘the real’ as it is through not making ‘reality’ merely as a medium. In Italian Neorealism, Andre Bazin had said: “None of the [character] that are reduced to a state or a symbol so that the audience can hate them without having to bother to understand first the human ambiguity that is displayed.”  Italian Neorealism shows that reality represent a dream or something outside dominant norm. On the other hand, the development of documentary genre which can be said ‘closer’ to ‘the real’ reached saturation point of its aesthetics in the post-Cold War period until then appeared statement that fiction as a genre is closest to ‘the real’ through its jargon ‘based on a true story’. This jargon, then ignored yet lead us on a situation about the presence of ‘technological perspective’ and a figure refers to the man-behind-technology interest, even in the documentary record. From this, we are faced with the shift situation of ‘the real’. We are suspecting that our reality is an illusion that is actually constructed. A question arises then: is it cinema getting away from ‘the real’?

In the two documentary feature films, Disorder by Huang Weikai and Petition by Zhao Lian, we are faced on how cinema play a role in capturing ‘the real’. Modes of production and ‘reality’ aesthetic language, which used by Huang and Zhao Liang Weikai, try to reduce and destroy the role of ‘technological perspective’. Of course this could not be done without adequate social situations. In other words, ‘the real’ situation of Chinese society today is very likely encourage the aesthetics language of ‘reality’ in a documentary film.

<b><i>Disorder </i></b><i>(Xianshi Shi Guoqu de Weilai)</i>
Disorder (Xianshi Shi Guoqu de Weilai)Huang Weikai (China)

Country of Production:  China
Language: Mandarin
Subtitles: English
58 min, Color, 2009
supported by: Icarus Films

Synopsis

Huang Weikai menyelesaikan Disorder di tahun 2009, setahun setelah Olimpiade 2008 sebagai pernyataan terbuka negara Cina tentang kelahiran negara kaya baru pada masyarakat internasional. Melalui footage-footage temuan dari 26 insiden kekacauan sehari-hari, Huang Weikai membeberkan kenyataan masyarakat Cina di masa transisi itu, masa yang dikatakannya sebagai, “Dalam sebuah zaman kamera video surveillance berfungsi sebagai dokumenter dan gosip di internet mampu mengungguli rating sebagai berita utama, gagasan tragedi yang berputar ke tempat dan waktu yang baru.”

Huang Weikai completed Disorder in 2009, a year after the 2008 Olympics as a public statement about the birth of a new rich country, China, to international community. Huang Weikai exposes the reality of Chinese society in transition through footages found from 26 daily incidents. It is a period of time where, “In an age where surveillance videos serve as a kind of documentary and internet gossip supercedes mainstream news cycles, the idea of tragedy is spun into a new place and time.

<b><i>Petition</i></b>
PetitionZhao Liang (China)

Country of Production:  China
Language: Mandarin
Subtitles: English
120 min, Color, 2009

supported by the filmmaker

Synopsis

Petition, karya Zhao Liang, mengangkat peristiwa pengajuan petisi yang banyak dilakukan oleh masyarakat kelas bawah di Cina. Tempat yang awalnya menjadi persinggahan untuk menunggu turunnya petisi dari pemerintah, telah berubah menjadi sebuah kampung yang berisi masyarakat yang telah menunggu bertahun-tahun turunnya petisi. Menjelang perayaan Olimpiade 2008, kampung itu pun akhirnya dibongkar secara paksa.

Zhao Liang’s Petition, follows some low-class Chinese people filing a petition against the government whom evicted their houses to be replaced by sport stadium. It is also about a place which used to be a stopover for people waiting the result of the petition, and later turned into a village inhabited by those marginalized people. Ahead of the 2008 Olympic celebrations, the village was eventually dismantled by force.