august, 2017

monday21august16:00- 17:50International Competition 05Film and Representation of the Minority16:00 - 17:50 UTC+7 GoetheHausFestival Program:International Competition

MORE

Details

Curated by
Syaiful Anwar

Total Duration
109 minutes

Venue

Goethehaus – Jakarta / 21 August 2017, 16.00

Kineforum – Jakarta / 24 August 2017, 16.00


Film List

Dadyaa / The Woodpeckers of Rotha (Pooja Gurung & Bibhusan Basnet, Nepal, 2016, 16 minutes)

Seorang perempuan dari pasangan suami-istri warga desa terpencil pegunungan begitu tercekau oleh ingatan akan para tetangganya yang sudah tiada. Ia menginginkan kehadiran orang-orang yang pernah sangat dikenalnya, dan memaksa sang suami untuk bersama-sama dengannya membuat replika dari sosok orang-orang itu. Maka, jadilah boneka-boneka kayu itu terasa benar-benar hidup dan menghadirkan kembali para tetangganya. Penghadiran kembali orang-orang mati ini berujung pada keputusan mereka untuk memilih apakah akan tetap tinggal atau pergi mengikuti para roh… Sebuah narasi tentang mitos orang-orang yang sudah mati dalam gambar-gambar yang puitis dan dengan bunyi-bunyian musikal serta adegan-adegan yang performatif.

A woman from a married couple in a remote mountainous village is so distracted by the memory of her dead neighbors. She wants the presence of people she once knew so well, and forces her husband to make a replica of the figures of those people with her. So, be the wooden dolls that feel alive and it brings back their neighbors. The retrieval of the dead leads to their decision to choose whether to stay or leave with the spirits … A narrative upon the myths of the dead in poetic images with musical sounds and performative scenes.

Turah (Wicaksono Wisnu Legowo, Indonesia, 2016, 83 minutes)

Masihkah terbesit harapan pada warga ketika kampung mereka yang terisolasi berada dalam pertarungan dua kepentingan berbeda antara pemuda bernama Turah dengan seorang lelaki tua bernama Jadag. Dua sosok kontradiktif ini sama-sama menjadi pengusung benang merah dari narasi tragis yang diakibatkan oleh kekuasaan lokal pemodal dan preman. Kehidupan di kampung Tirang sepenuhnya dikendalikan oleh perintah Darso, sang juragan kaya, di belakang kekuasaan pemerintah yang tinggal sebagai bayang-bayang. Turah tidak bisa selalu berbuat banyak untuk membantu dirinya dan keluarganya di tengah sikap apatis sesama warga kampung selain diam-diam berkompromi dengan kekuasaan lokal para preman. Turah adalah cerminan sosok warga yang menuruti aturan main, sedangkan Jadag, sebaliknya, sosok perlawanan yang akhirnya berujung pada maut.

Is there still any hope for the people when their isolated village is in a struggle between two different interests of a young man named Turah and an old man named Jadag. These two contradictory figures both bear the red thread of a tragic narrative caused by the local power of financiers and thugs. The life in Tirang village was entirely controlled by the command of Darso, the rich master, behind the reign of government that is only a shadow. Turah could not always do many things to help himself and his family in the midst of the apathy fellow villagers other than secretly compromise with the local powers of thugs. Turah is a reflection of the people who follow the rules of the game, while Jadag, on the contrary, is a figure of resistance that eventually led to death

Time

(Monday) 16:00 - 17:50 UTC+7

Location

GoetheHaus

Sam Ratulangi 9-15, Jakarta - 10350

Leave a Comment

Contact Us

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, asap.

Not readable? Change text. captcha txt

Start typing and press Enter to search

X