august, 2017

friday18august10:00- 11:00Festival Forum - Panel IAnonymity, Amateurism, and Habitus of Moving Image10:00 - 11:00 UTC+7 GoetheHausFestival Program:Festival Forum

MORE

Details

Speakers:
Riar Rizaldi (Media artist, Indonesia)
Anggraeni Widhiasih (ARKIPEL, Indonesia)
Ignatius Haryanto (Researcher, Indonesia)

Moderator:
Manshur Zikri (ARKIPEL, Indonesia)


Nowadays, the production, reproduction, and distribution of moving images have been detached from the shackle of elitism that had been limiting opportunity for discovery of vernacular visual languages. In fact, leaping further from what had previously made people aghast about the presence of TV (video), contemporary technological freedom today drastically alters people’s habits in creating and consuming moving images.

Recording activity is no longer relying solely by putting your eyes on the camera’s viewfinder, but nowadays’ digital screens allow the user’s body movement become more active—using the mobile camera, we can monitor the quality of image just by holding the device at our arms, or put it somewhere at certain distance from our body, in the same time with the function of record button running automatically. The computer-mediated and internet-mediated communication technologies open the widest possible creativity and opportunity to share multi-content of information to anyone. The difference between definite personal identities and anonymously presence in the virtual world has become vague, just like how amateur’s practices and forms of work right now have seemed no difference with professional’s. Due to it has been so easy to access those sophisticated electronic devices, everybody has equal power in celebrating and adapting the new daily habits of human being that, practically speaking, is almost never escape from moving images.

Recent occurrences also confirm that the revolutionary form of these media technologies have significantly correlation to the real revolutions in our global environment. Anonymity and amateurism on one hand indicate a phobia about surveillance, control, and risk, but also provide a certitude for the realisation of subversive actions. On the other hand, both seem to permit a transformation toward a collective identity that consequently lead to a change of formats of diverse community initiatives. This phenomenon requires a careful observation in the framework of obtaining new vocabularies and articulations. Under those contexts, Festival Forum 2017’s Panel I aims to discuss about the way cinematic perspectives understand this phenomenon. Or vice-versa, we need to look at how our critical views about this circumstance contribute to the development of discourse on cinema which seems to have shown its reluctance to keep only the dark space.

Kini, produksi, reproduksi, dan distribusi gambar bergerak telah lepas dari belenggu elitisme yang selama ini membatasi peluang bagi penemuan bahasa-bahasa visual vernakular. Bahkan, lebih jauh melompat dari apa yang sebelumnya pernah membuat masyarakat terperangah soal kehadiran TV (video), kebebasan teknologis kontemporer mengubah drastis kebiasaan-kebiasaan masyarakat dalam mencipta dan mengonsumsi gambar bergerak.

Merekam tidak lagi hanya mengandalkan mata yang dilekatkan pada viewfinder kamera, tetapi layar digital masa kini memungkinkan gerak tubuh pengguna menjadi lebih aktif—dengan teknologi mobile, kualitas gambar dapat dipantau hanya dengan menggenggam alat itu di tangan, atau meletakkannya di suatu tempat dengan jarak tertentu dari tubuh, bersamaan dengan fungsi tombol rekam yang dapat berjalan secara otomatis. Fasilitas teknologi media yang dimediasi dengan basis komputer dan jaringan internet, membuka seluas-luasnya kreativitas dan kesempatan untuk berbagi aneka konten informasi kepada siapa pun. Batas antara identitas personal yang jelas dan kehadiran secara anonim di dunia virtual sudah semakin samar, seturut dengan semakin menipisnya perbedaan bentuk dan praktik yang amatir dengan yang profesional. Karena akses terhadap perangkat elektronis canggih ini sudah sedemikian mudah, semua orang memiliki daya yang sama dalam selebrasi dan mengamini kebiasaan manusia sehari-hari yang, bisa dibilang, hampir tak akan pernah berjarak lagi dengan gambar bergerak.

Peristiwa-peristiwa mutakhir menegaskan pula bahwa revolusi teknologi media ini memiliki relasi signifikan dengan revolusi-revolusi yang nyata di lingkungan global. Anonimitas dan keamatiran, di satu sisi mengindikasikan suatu fobia terhadap pengawasan, kontrol, dan risiko, tetapi sekaligus juga memberikan kepastian bagi realisasi upaya-upaya subversif. Di sisi yang lain, kedua hal itu seakan mengizinkan sebuah transformasi ke arah identitas kolektif yang berkonsekuensi pada perubahan format dari inisiatif masyarakat yang beragam. Fenomena ini mengharuskan amatan yang teliti demi meraih kosakata-kosakata dan artikulasi-artikulasi baru. Panel I Forum Festival mencoba mendiskusikan bagaimana perspektif sinema melihat fenomena tersebut, dan sebaliknya, bagaimana pula pandangan kritis atas hal itu berkontribusi bagi pengembangan wacana sinema yang tampaknya telah menunjukkan keengganannya untuk terus bertahan di dalam ruang gelap saja.

Time

(Friday) 10:00 - 11:00 UTC+7

Location

GoetheHaus

Sam Ratulangi 9-15, Jakarta - 10350

Leave a Comment

Contact Us

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, asap.

Not readable? Change text. captcha txt

Start typing and press Enter to search

X