august, 2017

friday18august13:30- 15:00Festival Forum - Panel IIFilm Curating as Geopolitical Impetus13:30 - 15:00 UTC+7 GoetheHausFestival Program:Festival Forum

MORE

Details

Pembicara:
Jihyeon Song (Kurator, Korea)
Ismail Basbeth (Sutradara, Indonesia)
Aryo Danusiri (Sutradara, Antropolog, Indonesia)

Moderator:
Afrian Purnama (ARKIPEL, Indonesia)


Curatorial frameworks and practices are arguably an attempt to present negotiation between things that deserve to be linked their relevance both to current issues and to existing history. Curating some films means to offer a map through which public can sense, using poetic approach, some apertures to recognise constructed or ongoing discourses. It also provides framework in specifying what lies behind a work (of film) so that we can selectively put some polemics on the table to be contemplated. Curating a range of films is not only to show the relationship of one content (or mode of production) to other content (or other mode of production), but also to explain the imaginary relationships of sociocultural aspects between one scope of community to another.

On one hand, proposing a question about ​​geopolitical impetus in this panel is an intention to drag public attention in understanding how curatorial practices on film can be use as a strategy, in the framework of triggering for communication among nations throughout the region. Truly, this communication improvement will also have an impact to other matters which are directly linked to the public’s life. On the other hand, realising the real linkage between the geopolitical reality of the region and the representational reality of the film will provide us an opportunity to compare local theses from each region in a more dynamic contestation. Presumably, it is in this way that a festival is able to synchronise the perspectives of different interest groups in the field of film so that together we can see the most crucial issues of cinema and its socialité. Particularly today, when the new regulation of the digital community control system alters almost all the nature and forms of technological cultural interactions that have resulted in the emergence a new form of “penal colony”.

Praktik dan kerangka pikir kuratorial bisa dibilang merupakan usaha untuk menghadirkan suatu negosiasi di antara hal-hal yang patut untuk dikaitjalinkan, baik relevansinya dengan persoalan-persoalan mutakhir maupun dengan alur sejarah yang sudah ada. Kurasi filem menawarkan sebuah peta yang melaluinya publik bisa meraba celah-celah untuk mengenali lewat pendekatan puitik diskursus yang sudah terbangun ataupun yang tengah berlangsung. Kurasi juga memberikan batasan-batasan yang menspesifikasi apa yang melatarbelakangi sebuah karya (filem) sehingga dapat ditarik secara selektif polemik-polemiknya ke atas meja perenungan. Mengurasi kumpulan filem bukan saja menunjukkan hubungan suatu konten (atau modus produksi) dengan konten (atau modus produksi) yang lain, tetapi juga menerangkan hubungan-hubungan imajiner suatu lingkup sosiokultural masyarakat dengan lingkup yang lain.

Mengetengahkan ide tentang prawarsa (daya gerak) geopolitik ke dalam diskusi di panel ini, di satu sisi, adalah niat ARKIPEL untuk menghimpun perhatian publik festivalnya dalam melihat praktik kuratorial atas filem sebagai strategi yang diharapkan bisa memicu dampak riil bagi komunikasi antar negara-bangsa intra- dan inter-kawasan. Bahwa, dengan terpicunya suatu kualitas dalam komunikasi tersebut, juga akan berdampak pada hal-hal lain yang memiliki kaitan langsung dengan peri kehidupan masyarakat. Pada sisi yang lain, dengan menyadari keterkaitan riil antara kenyataan geopolitik kawasan dan kenyataan representasional yang dikandung filem, akan memberikan kesempatan bagi kita untuk mempertandingkan tesis-tesis lokal dari setiap wilayah ke dalam panggung kontestasi yang lebih dinamis. Agaknya, melalui cara itulah kemudian sebuah festival mampu menyetarakan perspektif berbagai kelompok kepentingan di medan perfileman untuk melihat persoalan paling krusial dari sinema dan sosialitanya, terutama di saat regulasi baru dari sistem kontrol masyarakat digital mengubah hampir semua sifat dan bentuk interaksi budaya teknologi yang berbuntut pada kemunculan wujud baru dari “penal colony”.

Time

(Friday) 13:30 - 15:00 UTC+7

Location

GoetheHaus

Sam Ratulangi 9-15, Jakarta - 10350

Leave a Comment

Contact Us

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, asap.

Not readable? Change text. captcha txt

Start typing and press Enter to search

X