Membaca Bahasa Sinema Komunitas

 

“Komunitas filem konon adalah sokoguru sinema Indonesia.”

Itulah slogan awal yang dikemukakan paling awal oleh Windu Jusuf sebagai pembicara pertama dari Forum Festival ARKIPEL 2016, Panel 2, “Komunitas Sebagai Pengembangan Pengetahuan Sinema: Membaca Bahasa Sinema Komunitas”, salah satu mata acara yang disuguhkan oleh ARKIPEL social/kapital – 4th Jakarta International Documentary & Experimental Film Festival, di hari Kamis, 18 Agustus, 2016.

panel 2-3

Selain Windu Jusuf, Nischal Oli (salah satu kurator dalam Program Kurator Asia Muda ARKIPEL) dan Otty Widasari (salah satu kurator ARKIPEL) juga hadir sebagai pembicara di Forum Festival siang itu, dimoderatori oleh Akbar Yumni, anggota Forum Lenteng yang juga merupakan kurator ARKIPEL dan menjadi pembicara di Panel 1, Kritisisme dalam Sinema. Setelah nama-nama mereka diperkenalkan di atas panggung kepada kurang lebih 50 orang tamu dan 2 media yang hadir (Kompas dan Cinematography Club Fikom Unpad), diskusi publik dwibahasa ini pun dimulai.

panel 2

Windu Jusuf memaparkan pandangannya tentang sinema dan komunitas filem. / Windu Jusuf explained his view on cinema and film communities.

Kritikus sekaligus pengajar filem di Bina Nusantara tersebut mengemukakan pendapatnya bahwa lebih penting untuk mengamati lebih dulu arti dan peran komunitas itu sendiri dibandingkan dengan membahas lebih lanjut mengenai bahasa sinema komunitas.

Komunitas filem, menurutnya, dikenal belakangan setelah orang lebih mengenal komunitas lain seperti sastra dan teater. Komunitas filem muncul sebagai upaya pegiat sinema untuk melakukan pembaharuan dalam sinema Indonesia disebabkan oleh situasi industri filem nasional yang layu hingga akhir 1990-an sehingga komunitas dianggap sebagai “penyelamat”. Kemudahan untuk membuat filem karena memiliki otonomi relatif dan kemajuan teknologi di tahun 90-an menjadi titik awal maraknya komunitas filem tercipta.

Tepat setelah presentasi Windu Jusuf selesai, beberapa tamu mulai menyiapkan alat penerjemah yang mereka dapatkan dari meja registrasi untuk mendengarkan presentasi selanjutnya. Nischal Oli yang menjadi pembicara kedua adalah seorang kurator, produser seni dan pendiri Kala Kosh dari Nepal.

panel 2-1

Nischal Oli berbagi pengalaman tentang perkembangan sinema dan komunitas filem di Nepal. / Nischal Oli shared his experience about the cinema and film communities in Nepal.

Ia menanggapi umpan yang diberikan moderator bahwa di Nepal tidak ada komunitas yang bergerak secara spesifik di bidang filem namun ada komunitas-komunitas lain. Salah satu alasan mengapa komunitas filem tidak terbangun dengan baik di Nepal disebabkan oleh kurangnya akses terhadap infrastruktur dan juga ilmu pengetahuan meskipun ia setuju terhadap pernyataan Windu Jusuf tentang kemajuan teknologi.

panel 2-4

Otty Widasari memaparkan pandangannya mengenai sinema dan komunitas filem di Indonesia. / Otty Widasari explained her view on cinema and film communities in Indonesia.

Hal serupa juga diungkapkan pembicara ketiga, yaitu Otty Widasari, salah satu pendiri Forum Lenteng, sutradara dan juga direktur AKUMASSA. Baginya, komunitas itu umumnya organik dan muncul karena adanya kesamaan minat dan kesamaan cita-cita. AKUMASSA yang didirikannya merupakan program pemberdayaan media yang tidak bicara spesifik berbicara tentang filem, tetapi lebih ke persoalan bagaimana merespon situasi media di Indonesia.

Seperti dua pembicara lainnya, Otty menjelaskan bahwa selain karena situasi ‘mati suri’-nya perfileman Indonesia tahun 1990-an itu, kemajuan teknologi benar-benar membuat komunitas filem semakin menjamur. Membuat filem dari rekaman video dianggap jauh lebih mudah dan murah dibandingkan dengan membuat filem menggunakan seluloid yang lebih mahal dan industrial. Trend membuat filem ini menjadi fenomena dan memunculkan banyak sekali komunitas. Puncaknya, filem-filem Indonesia dari komunitas akhirnya bisa masuk ke dalam bioskop sehingga semakin meningkatkan semangat mereka. Fenomena ini menuntut bahwa bahasa sinema perlu dibaca, apakah ada kekhasan dan ciri tertentu dari karya-karya yang dihasilkan.

Pernyataan menarik kemudian muncul dari penanya pertama dalam sesi tanya-jawab. Iyus dari Bala Cinema Bandung mengungkapkan bahwa ia terganggu dengan kata komunitas. Menurutnya komunitas hanya mengkotak-kotakkan sinema itu sendiri dan tidak begitu penting. Pertanyaan itu membuat forum diskusi menjadi lebih hidup dengan berbagai sanggahan dan pendapat serta pertanyaan dari beberapa orang penanya, salah satunya adalah Hafiz Rancajale dan Manshur Zikri, dua orang anggota Forum Lenteng. Beberapa orang setuju dengan istilah sinema komunitas karena itu dapat dilihat sebagai langkah politis untuk mencari kemungkinan baru dalam perkembangan bahasa sinema.

panel 2-5

Meskipun forum diskusi tentang komunitas dan pengetahuan sinema sudah berakhir, beberapa meja kantin di luar GoetheHaus tampak ramai dengan kerumunan para tamu. Ditemani dengan teh, kopi dan rokok, diskusi di luar panel itu masih dilanjutkan oleh para partisipan dan hadiri, hingga gong tanda dimulainya kembali Forum Festival Panel 3.

Reading the Language of Community Cinema

 

“Film community was once a pillar of Indonesian cinema.”

That is the initial slogan spoke by Windu Jusuf as the first speaker of ARKIPEL Festival Forum 2016, Panel 2, Community as Expansion of Cinema Knowledge: “Reading the Language of Community Cinema”, one of the events that are served by ARKIPEL social/kapital – 4th Jakarta International Documentary & Experimental Film Festival in Thursday, August 18, 2016.

Along with Windu Jusuf, Nischal Oli (one of the curators for Asian Young Curator Program) and Otty Widasari (one of the curators of ARKIPEL) also here as speakers and the forum was moderated by Akbar Yumni, a member of the Forum Lenteng which is also one of the curators at ARKIPEL and a speaker at the Panel 1, Criticism in Cinema. After their names were introduced on stage to 50 guests and 2 media from Kompas and Cinematography Club Fikom Unpad all around in GoetheHaus, this bilingual public discussion was then started.

This critic and film lecturer at Bina Nusantara spoke about his opinion that it is more important to observe firstly the meaning and the role of community itself, rather than discussing the language of community cinema and others.

Film communities, he said, was known later as people were more familiar with other communities such as literature and theater. Film community emerged as an attempt of cinema activists to reform Indonesian cinema due to withered national film industry until the end of 1990, therefore community is considered as the “savior”. The convenience to make film caused by its relative autonomy and technological advances in the 90s became the starting point of the rise of community.

Right after the presentation Windu Jusuf completed, some guests began to prepare a translation gear from the registration desk to listen the next presentation. Nischal Oli who became the second speaker is a curator, art producer and founder of Kala Kosh from Nepal.

He was responding to the given feed from moderator that in Nepal there is no community that is engaged specifically in the field of film, but there are other communities. One of the reasons why the film community is not well established in Nepal is due to the lack of access to infrastructure and knowledge even though he agreed with the statement that Windu Jusuf about the advancement of technology.

It is also disclosed by third speaker, Otty Widasari, one of the founders of Forum Lenteng, film director and also director of AKUMASSA. For her, community is organic and arose because their common interests and goals. AKUMASSA which she established is a media-based community empowerment programs that are not specifically talk about the film, but how to respond to the situation of the media in Indonesia.

Like the two other speakers, Otty explained that in addition to the resurrection of Indonesia film in the 1990s, technological advances really provoke the film community burgeoning. Making a film with videotape is considered much easier and cheaper than using celluloid film which is more expensive and industrial. Trend to make this kind of film became a phenomenon and led to many communities emerged. The peak of it then, Indonesian films from the community can finally get into the cinema so as to further improve their spirit. Afterwards, the language of cinema can be read, if there are certain peculiarities and characteristics.

This interesting statement then emerged from the first question in Q&A session. Iyus of Bala Cinema Bandung revealed that he is troubled by the word of community. For him, community is just splitting the cinema itself and hence, became not so important. Right then the discussion forum became livelier with various disclaimers and opinions from questioners, one of which were Hafiz Rancajale and Manshur Zikri (two members of the Forum Lenteng). Some audiences agreed with the term of “community cinema” because it could be seen as a political move to seek a new possibility in the development of the language of cinema.

 

Although the discussion forum for the community and cinema knowledge was over, some tables in the Goethe seemed crowded with guests. Accompanied with tea, coffee and cigarettes, discussion of post-forum discussion was continued until the gong marked the next of the Festival Forum.*

Leave a Comment