In News

Minggu, 23 Agustus 2015, studio Kineforum, Taman Ismail Marzuki, dihadiri oleh 27 orang penonton, sebagaimana tercatat di buku tamu, termasuk di dalamnya tamu-tamu undangan khusus ARKIPEL Grand Illusion – 3rd Jakarta International Documentary & Experimental Film Festival, 2015. Malam itu, pukul 19:30, sesi Asian Young Curator menayangkan filem-filem hasil kurasi dari dua kurator Filipina, Merv Espina dan Shireen Seno, berjudul The Kalampag Tracking Agency.

Tidak jauh berbeda dengan yang tertera di dalam katalog festival, Shireen memaparkan dalam pembukaannya bahwa kata ‘kalampag’ berasal dari bahasa Tagalog, yang berarti bang di dalam bahasa Inggris, sebuah kata audial yang menunjukkan ledakan atau letupan, merujuk kepada mesin atau perangkat mekanik. Kata ini menyiratkan suatu kondisi yang rusak atau keadaan di mana mesin beroperasi dengan tidak sempurna. Ada 13 filem berdurasi pendek yang diputar dalam program tersebut, yang sebagian besar adalah hasil dari lokakarya-lokakarya yang dihelatkan oleh kolaborasi antara Mowelfund, Goethe Intitute Mania, dan Phillipine Information Agency pada periode 1980-an.

Secara umum, filem-filem yang dipresentasikan malam itu menyiratkan suatu inisiatif dan aktivisme untuk menyelematkan materi-materi audiovisual sebagai materi pengetahuan penting. Beberapa filem, misalnya Kalawang (1989) dan Minsan Isang Panahon (1990), adalah olahan dari materi-materi yang ditemukan sebagai sampah di luar studio filem. Demikian juga dengan filem-filem yang lain, di mana beberapa materinya didapatkan dari kanal internet, seperti YouTube dan dipadukan dengan arsip-arsip filem. Jelas terasa bagi saya, yang saat itu menjadi salah satu penonton, niatan dari kurasi ini bahwa penyelematan arsip menjadi sebuah aksi penting yang diharuskan untuk meningkatkan nilai-nilai diskursus dari perfileman itu sendiri.

Gagasan itu, sebenarnya, menjawab pertanyaan yang dilemparkan oleh David Teh, salah satu kurator ARKIPEL Grand Illusion, saat diskusi singkat yang dihelatkan setelah pemutaran. David melemparkan pertanyaan terkait argumen historik yang melatarbelakangi penyusunan kuratorial tersebut. Shireen dan Merv kemudian memaparkan bagaimana situasi dan kondisi sosial-politik di Filipina memengaruhi pembangunan infrastruktur di bidang perfileman. Usaha untuk mengembangkan gedung Pusat Filem Manila yang dimulai sejak tahun 1981 berkorelasi dengan kejadian pemberontakan kelompok-kelompok serta penghilangan orang-orang di negara tersebut.

Berkaitan dengan hal itu, May lantas menanyakan apa tawaran baru yang kemudian dibawa oleh program Kalampag itu sendiri (melanjutkan pertanyaannya sebelumnya tentang naratif dari sinema eksperimental Filipina)?

Merv menanggapi pertanyaan dari May tersebut dengan mengungkapkan, bahwa menurutnya tidak ada argumen spesifik untuk menjawab hal itu, terlebih mengenai sinema eksperimental, karena hingga saat ini kita semua masih dalam tahap mengumpulkan segala macam potongan untuk mambangun wacana itu. Tawaran yang kemudian didorong melalui program ini ialah menjadikannya sebagai sebuah bentuk ketinampilan atas penelitian (performativity of a kind of reserach). Melalui agenda yang dibawa kuratorial tersebut, Merv dan Shireen memanfaatkan segala peluang yang mungkin didapat dari banyak perhelatan, salah satunya festival, untuk mendapatkan akses, baik materi, pengalaman, gagasan, bahkan wacana yang berkaitan dengan aktivisme tersebut.

Sebab, sebagaimana ujaran Merv, “Dasar dari kurasi adalah kepedulian…”. Bagaimana melalui aksi-aksi kuratorial semacam itu kita menigkatkan kesadaran, kepedulian dan inisiatif untuk merawat dan mencari serta menyelamatkan segala arsip yang harusnya kita miliki.

Diskusi singkat tersebut mendapat tepuk tangan meriah di akhir acara. Setelah program Merv dan Shireen selesai, seluruh penonton keluar dari studio, sedangkan para tamu undangan ARKIPEL Grand Illusion bergerak menuju kafe Camden untuk melanjutkan perbincangan-perbincangan santai terkait sinema dan festival.

Curation as the Initiative for Archives Awareness

Asian Young Curator Presentation Program, The Kalampag Tracking Agency

 

Sunday, August 23, 2015, the Kineforum studio, Taman Ismail Marzuki, attended by 27 people, as recorded in the guest book, including special guests of ARKIPEL Grand Illusion – 3rd Jakarta International Documentary & Experimental Film Festival, 2015. That night, at 19:30, Asian Young Curator session showing films from two Philippines curators, Merv Espina and Shireen Seno, entitled The Kalampag Tracking Agency.

Not much different from the one stated in the festival catalog, Shireen explained in the introduction that the word ‘kalampag’ is derived from Tagalog language, which means bang in the English language, a word that indicates audial explosion or eruption, refer to the machine or mechanical device. This word implies a damaged condition or state in which the engine operates imperfectly. 13 short duration films were played in the program, which are largely the result of workshops held by the collaboration between Mowelfund, Goethe Institute Manila, and the Philippine Information Agency in the 1980s.

Generally, films that were presented that evening implied an initiative and activism for rescuing audiovisual material as an important material of knowledge. Some films, such Kalawang (1989) and Minsan Isang Panahon (1990), is processed from found materials such as trash outside the film studio. Likewise with the other films, some of the material obtained from the Internet channels, such as YouTube and combined with archival film. Clearly feels for me, who sat as one of the spectators that time, the intention of this curation to rescue archive becomes an important action that is required to increase the values ​​of the cinema discourse itself.

The idea was, in fact, was an answer to the questions thrown by David Teh, one of the curators of ARKIPEL Grand Illusion, when a brief discussion was rolled after the screening. David threw questions related to the historical arguments underlying the preparation of the curatorial. Shireen and Merv then explained how the situation and socio-political conditions in the Philippines affected the infrastructure development in the cinema realm. Efforts to develop the Manila Film Center building, which began in 1981 correlated with the incidence of insurgency groups and disappearances of people in the country.

In that regard, May then asked what new offers are then taken by Kalampag program itself (to continue the previous question about the narrative of experimental cinema Philippines)?

Merv responded to May’s questions by revealing that he thinks there is no specific arguments to answer it, especially regarding the experimental cinema, because until now we are all still in the stage of collecting all kinds of pieces to build such discourse. The offer pushed from this program then is to make it as a form of performativity of a kind of research. Through the agenda that the curatorial brought, Merv and Shireen took advantage of all the opportunities that may be obtained from many events, one of them is festival, to gain access, good materials, experiences, ideas, even discourses relating to such activism.

Because, as Merv explained, “The basis of curation is awareness …” It’s how through such curatorial actions we can boost awareness, concern and the initiative to care and search and rescue all the archives that we should have.

The brief discussion got a standing ovation at the end of the event. After Merv and Shireen’s program ended, the entire audience left the studio, while the invited guests of ARKIPEL Grand Illusion moved towards the Camden Bar to continue the casual discussions related to cinema and festivals.

Leave a Comment