In ARKIPEL 2017 - Penal Colony, News
Bahasa Indonesia

Lounge di ARKIPEL: ruang santai yang secara artistik siginifikan

Selain program pemutaran filem-filem, pameran Kultursinema, dan simposium Forum Festival, ARKIPEL juga menyediakan ruang publik (lounge) sebagai sarana bagi para penikmat dan pegiat filem yang mendatangi festival untuk dapat saling bertemu dan berdiskusi secara lebih cair. Lounge ARKIPEL bertempat di Ke:kini yang berjarak sekitar 350 meter (atau lebih-kurang 5 menit berjalan kaki) dari Kineforum yang menjadi salah satu venue pemutaran filem-filem ARKIPEL. Sudah dibuka sejak hari Minggu, 20 Agustus 2017, Lounge ARKIPEL biasanya akan dimulai sekitar pukul 9 malam atau seusai program terakhir di hari-hari festival. Ruang yang cair tapi dikemas dengan intim ini akan selalu ada setiap malam hingga sehari sebelum acara Malam Penghargaan ARKIPEL.

Pengadaan Lounge sebagai salah satu venue festival—dan karenanya juga menjadi bagian dari artistik festival itu sendiri—diharapkan dapat membuka kesempatan yang lebih luas untuk bertukar informasi, pemikiran, dan pengalaman antar pelaksana festival, para tamu, dan publik. Diiringi musik dan ditemani minuman dan makanan kecil, para pengunjung dapat bergabung di dalam kelompok-kelompok kecil; beberapa ada yang berdiri, beberapa ada yang duduk, atau menikmati musik yang diputar oleh Abi Rama dan Rachmmadi Rambo (dua pegiat festival ARKIPEL) sembari menari di lantai dansa. Seiring makin larutnya waktu, makin banyak pula pengunjung lounge yang menghentakkan kaki di lantai dansa. “Smoke outside, drinking inside, dancing both side!” begitulah slogan yang terpampang di papan yang terletak di dekat pintu.

Menurut Akbar Yumni, salah satu kurator ARKIPEL, peran utama lounge di festival-festival filem adalah menyediakan ruang egaliter bagi para partisipannya. Baginya, konsep lounge—atau pesta—yang memungkinkan adanya suasana gembira dapat menghapus hierarki antara subjek-subjek yang terlibat, termasuk juga antara volunteer, penyelenggara, pembuat filem, kurator, dan masyarakat umum; mereka semua memiliki posisi yang sama secara kultural. Sebagai sebuah forum pembelajaran, lounge juga membuka kesempatan akan pembacaan filem dari perspektif yang beragam. Akbar Yumni menggambarkan kondisi lounge di mana para pegiat intelektual berkumpul bersama cinephilia (para pencinta filem) dan berdiskusi bersama mengenai filem sehingga pembacaan filem tidak hanya terbatas pada teori akademis, tetapi juga dari perspektif subjektif tiap-tiap orang hingga interpretasinya pun dapat lahir melalui pengalaman personal.

Dengan tegas Akbar Yumni menekankan bahwa ARKIPEL sebagai sebuah festival berusaha untuk tidak membuat jarak dengan publiknya, di mana jarak ini selalu menjadi masalah yang umum terjadi di setiap penyelenggaraan sebuah festival filem. Ia menuturkan, lounge berperan mengembalikan tradisi dan hakekat festival yang merupakan sebuah perayaan (festive) dan, tentu saja, membangun keintiman.

Di ARKIPEL sendiri, pengadaan Lounge ini baru dilakukan di tahun ketiga penyelenggaraannya, yakni pada tahun 2015. Yuki Aditya, selaku Direktur ARKIPEL, menjelaskan bahwa pertama kali diadakannya lounge ini adalah karena berubahnya kebutuhan festival. Di tahun ke-3, terdapat peningkatan kuantitas dalam hal keterlibatan berbagai pihak dalam festival filem experimental pertama di Indonesia ini. Bukan hanya dari segi partisipan undangan, tetapi juga keterlibatan masyarakat umum dalam mengelola penyelenggaraan festival tersebut. Karenanya, muncul kebutuhan untuk mendekatkan komunikasi dan meningkatkan kualitas interaksi seluruh pihak yang terlibat di ARKIPEL. Tidak hanya itu, ARKIPEL sebagai festival yang bergerak di wilayah pendidikan tentang sinema, juga berusaha membuka kesempatan bagi para panitianya sendiri dan para volunteer untuk membangun jaringan perfileman. “Untuk apa jauh-jauh datang ke festival hanya untuk presentasi filem, lalu pulang? Hanya kenal saya atau Bang Hafiz (Direktor Artistik ARKIPEL), tidak kenal yang lain? Sedangkan kita, Forum Lenteng, bekerja dalam komunitas secara kolektif,” jelasnya.

Lounge ARKIPEL mengalami perubahan dari tahun kemarin. Tahun lalu dan tahun sebelumnya, yakni pada ARKIPEL social/kapital dan ARKIPEL Grand Illusion, lounge ARKIPEL bertempat di Camden Bar yang terbuka untuk publik. Andang Kelana, Manajer Festival ARKIPEL, menjelaskan bahwa ARKIPEL memilih Ke:kini sebagai tempat lounge tahun ini karena ruangnya yang memungkinkan “privasi”. Tapi, “privasi” di sini bukan dalam arti menghalangi kehadiran publik di luar pengurus festival, tetapi lebih sebagai ruang spesifik dan identik yang terkonsentrasi dan mampu meningkatkan kedekatan di antara orang-orang yang datang ke lounge.

Scott Miller Berry, salah seorang tamu ARKIPEL 2017—yang pada ARKIPEL 2016 menjadi salah satu juri—mengatakan bahwa lounge ARKIPEL tahun ini memberikan suasana yang lebih “privat”. Scott mengaku lebih menyukai format lounge yang diadakan di Ke:kini karena ruang lounge ini dipenuhi oleh para partisipan ARKIPEL dan orang-orang yang memang engage dengan festivalnya, sehingga perbincangan yang muncul pun tetap berada di alur dan agenda festival. Pendapat yang sama disampaikan pula oleh Rego Hardyno, salah seorang volunteer. Tiwi, juga seorang volunteer, merasa bahwa lounge tahun ini sangat menarik dan lebih menarik lagi jika diadakan permainan atau kegiatan yang memancing para peserta supaya tidak pasif.

Saya sendiri merasa lounge ini merupakan suatu bagian acara yang unik. Selama beberapa kali menghadiri beberapa festival filem di beberapa daerah di Indonesia, saya belum pernah menemukan rangkaian acara yang mengadakan sesi serupa ice breaker ini. Sebagai orang yang tidak begitu terbiasa berbincang terlalu serius mengenai filem secara terus-menerus, kehadiran lounge memberikan pilihan bagi saya untuk mengakrabkan diri tanpa harus ngobrol melulu tentang filem, tetapi bisa lewat hal-hal atau trivia-trivia lainnya. Hadirnya lounge memberikan kedalaman bagi ARKIPEL sebagai sebuah festival filem; dan sebagai bagian dari strategi artistik dan komunikasi dengan publiknya, lounge ARKIPEL sangat berguna untuk membuka diskusi yang memperluas sekaligus memperdalam perbincangan “tematik” ataupun “di luar tematik” festival di antara para penikmatnya. ***

English

Lounge in ARKIPEL: An artistically significant lounge

Aside of film screening programs, Kultursinema exhibition, and Forum Festival symposium, ARKIPEL also provides a public space (lounge) as a means for the audience and film activists who come to the festival to meet and talk each other in a more fluid way. The lounge was located in Ke:Kini that is about 350 meters (or 5-minutes walk) from Kineforum which is one of the venue of ARKIPEL. It has been opened since Sunday, August 20, 2017, and usually it starts around 9 pm or after the last program on each day of the festival. This informal meeting place is held as an intimate space and it can be visited every night until the day before the Awarding Night of ARKIPEL.

With this lounge provided as one of the festival venue—and therefore it is also part of the artistic of the festival—it is expected to open wider opportunities for sharing information, thoughts and experiences among festival executives, guests, and the public. With music, drinks and snacks, visitors can join small groups; some standing, some sitting, or enjoying music played by Abi Rama and Rachmmadi Rambo (both are from the ARKIPEL committee) while dancing on the dance floor. As time passes, the more people at the lounge stomp their foot on the dance floor. “Smoke outside, drinking inside, dancing both side!” That’s the slogan on the board near the entrance.

According to Akbar Yumni, one of the ARKIPEL’s curators, the main role of lounge at film festivals is to provide an egalitarian space for the participants. For him, a lounge—or party—can be a concept which allows a cheerful atmosphere and erase the hierarchy among the subjects involved in the festival, including volunteers, organizers, filmmakers, curators, and even the public in general; they all have the same cultural position. The lounge also can be a learning forum that open up another chance to read the film environtment from diverse perspectives. Akbar Yumni then described how the lounge become a place where intellectuals, activists, gather together with cinephilia (or film-lovers) discussing anything related to film, thus our comprehension on film phenomenon is not only refer to academic theory, but also to personal experience of each person.

Akbar Yumni firmly emphasized that ARKIPEL as a festival seeks not to distance itself from its public—because this distance has been always a common problem in some film festivals. He said that the lounge plays a role to restore the tradition and essence of the festival which is a celebration (festive) and, of course, to build intimacy.

In the case of ARKIPEL, the committee served a lounge for the first time in 2015 when they held their third festival. Yuki Aditya, the Director of ARKIPEL, explained that they decided to hold a lounge because the needs of the festival were changing. In the third year, there was an increasing quantity in terms of involvement of various parties in this first experimental film festival ever in Indonesia. Not only in terms of invited participants, but also the involvement of the public in managing the festival. Therefore, there was also a need to communicate closer and improve the quality of the interaction of all parties involved in ARKIPEL. In addition, ARKIPEL as a festival that aim to develop education about cinema also opens the opportunity for its own committee members and volunteers to develop networks. “Why do you go all the way to the festival just for a film presentation, then go home? Just knowing me or Hafiz (Artistic Director of ARKIPEL), and do not know the others? In fact, we, Forum Lenteng’s members, work collectively in the organization,” he said.

ARKIPEL has changed the format of its lounge. Last year and two years ago, for the event of ARKIPEL social/kapital and ARKIPEL Grand Illusion, the festival’s lounge was located in Camden Bar which was very open for public. Andang Kelana, the Festival Manager of ARKIPEL, explained that this year ARKIPEL chose Ke:Kini as the place for festival’s lounge because it allows a quite “private” situation. Become “private” is in the sense that this format is not avoiding the presence of the people outside the festival committee and invited guests, but rather as a specific, identical, concentrated space enhancing closeness among everybody who come to the lounge.

Scott Miller Berry, a guest of ARKIPEL 2017—who was a jury of ARKIPEL 2016—said that the lounge of ARKIPEL this year provided a more “private” atmosphere. Scott said that he was prefer the lounge held in Ke:Kini because the space was filled with ARKIPEL participants and people who are engage with the festival, so the conversations arises are remained in the flow and agenda of the festival. The same opinion was also made by Rego Hardyno, one of the volunteers; while Tiwi, also a volunteer, felt that the lounge this year was very interesting and it will be more interesting if there is a game or activity that lures the participants not to be passive.

I myself felt this lounge was a unique part of the event. During several times attending several film festivals in several regions in Indonesia, I have never found a series of events that held a typically ice breaker session like this. As a person who is not so used to talk too seriously about films continuously, the presence of lounge gives me the option to familiarize myself without having to talk only about films, but it can be through other things or other trivial matters. The presence of lounge provides certain depth for ARKIPEL as a film festival; and as part of its artistic and communication strategy with its public, the ARKIPEL’s lounge is very useful for opening discussions that broaden as well as deepen the “thematic” or “outside thematic” conversations of the festival among its audience. ***

Leave a Comment

Contact Us

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, asap.

Not readable? Change text. captcha txt

Start typing and press Enter to search

X