SP OGAWA 3 / AT. 13 SEP, 15.00 / CINEMA XXI – TIM

[divider type=”space” height=”40″ no_border=”1″ /] [column type=”1/3″ last=”0″ class=””]

18+

Country of production Japan
Language Japanese
Subtitle English
146 min, B/W, 1973

[/column] [column type=”1/3″ last=”0″ class=””]

Sungguh pada tempatnya, bila filem keberpihakan ini, dipersembahkan sebagai ode bagi desa dan warga masyarakat Heta setelah peranan radikal mereka dalam menuntut hak-hak yang sama sebagai warganegara. Dokumenter ini dengan setia dan penuh simpati memasuki relung kehidupan komunal warga melalui obrolan tulus dari beberapa anggota masyarakat. Pendekatan nan simpatik ini lebih jauh berhasil menarasikan sejumlah cuplikan mengenai sejarah, tradisi, dan harapan realistis warga: melewati masa-masa terberat dari kecamuk kekerasan dan kerusuhan di tanah asal mereka. Sebuah metafor sinematik yang mengupayakan kedekatan hubungan antara upaya kolektif dokumenter ini dengan subyek-subyeknya, sebagai sebuah akhir yang tampaknya berpihak pada kebahagian dan kegembiraan sederhana dan sehari-hari dari komunitas warga desa usai tragedi yang penuh amarah.

[/column] [column type=”1/3″ last=”1″ class=””]

It is apt indeed if the three films of this social movement is dedicated as an ode for the village and the villagers of Heta after their radical role to demand their equal rights as citizens. This devoted and full of sympathy documentary entered the inner lives of the communal through sincere conversations with several villagers. This sympathetic approach succeeds in narrating a collection of clips on history, tradition and realistic expectation of the villagers: to pass through the hardest times of the violent riots in their homeland. It’s a cinematic metaphor seeking intimate relation between this documentary collective effort with its subjects, as a conclusion that seems to take side on the village community’s happiness and simple everyday joys after a tragedy full of anger.

[/column]

Leave a Comment