SP OGAWA 2 / SAT. 13 SEP, 12.00 / CINEMA XXI – TIM

[divider type=”space” height=”40″ no_border=”1″ /] [column type=”1/3″ last=”0″ class=””]

18+

Country of production Japan
Language Japanese
Subtitle English
143 min, B/W, 1971

[/column] [column type=”1/3″ last=”0″ class=””]

Eskalasi kekerasan, di satu pihak, dan berlanjutnya perlawanan kolektif warga desa Heta, di pihak lain, telah mengilhami gerakan untuk membangun benteng pertahanan bawah tanah sebagai siasat baru guna melancarkan serangan secara lebih taktis, sekaligus sebagai tempat perlindungan dari aparat negara yang kian bertindak brutal terhadap massa demonstran dan menangkapi warga. Diselang-selingi sejumlah interupsi montase yang mengetengahkan sejumlah profil warga desa yang berbincang tentang kelanjutan aksi protes mereka, serta kemungkinan terburuk yang bakal mereka hadapi, dokumenter ini juga menyajikan suatu gambaran tentang ‘jiwa’ dari gerakan sosial tersebut saat kamera menyusuri lorong-lorong pertahanan dan tempat berlindung warga. Buat sementara waktu, kecamuk kerusuhan dijeda untuk memberi tempat bagi renungan mengenai alasan hakiki perlawanan, sembari setiap sudut dari dunia bawah tanah itu menyimpan sendiri riwayat perjuangan orang-orang yang menjadi sumber dari radikalisme itu.

[/column] [column type=”1/3″ last=”1″ class=””]

The escalation of violence, on the one hand, and the following collective resistance of Heta villagers, on the other hand, had inspired the movement to build an underground bastion as a new strategy to attack in a more tactical way as well as a sanctuary from the state apparatus that were increasingly brutal in facing the demonstrators and arresting the villagers. Interspersed with a number of montage interruptions presenting villagers’ profiles discussing their following protest actions and the worst possibilities they can encounter, this documentary also presents a description about the ‘soul’ of that social movement as the camera explores the villagers’ bastion and alleys of sanctuary. Temporarily, the riot paused to give space for contemplation of the essential reason of the resistance, while every corner of the underground world kept stories of the struggling people who became the source of that radicalism.

[/column]

Leave a Comment