Tentang Penayangan Program “Pengadilan Secara Sinematis”

 

Dengan total durasi 442 menit, terbagi ke dalam 4 bagian, Hitler: A Film from Germany merupakan salah satu filem terpanjang yang pernah diputar di Kineforum. Filem garapan Hans-Jürgen Syberberg ini diproduksi di Jerman Barat, Inggris, dan Prancis pada tahun 1977; pada ARKIPEL tahun ini, filem ini dikurasi oleh Akbar Yumni. Kritikus filem dan seni serta anggota Forum Lenteng ini mengambil judul kuratorial, “Pengadilan Secara Sinematis” setelah melihat fakta bahwa sang pembunuh massal terbesar dalam sejarah dunia, Adolf Hitler, belum mendapatkan pengadilan secara estetis.

Akbar Yumni, kurator "Pengadilan Secara Sinematis", memberikan pengantar tentang filem Hitler, A Film from Germany (1977) karya Hans-Jurgen Syberberg.

Akbar Yumni, kurator “Pengadilan Secara Sinematis”, memberikan pengantar tentang filem Hitler, A Film from Germany (1977) karya Hans-Jurgen Syberberg. / Akbar Yumni, the curator of “A Trial by Cinema”, explained about the Hitler, A Film from Germany (1977) by hans Jurgen Syberberg.

Berangkat dari pendapat Walter Benjamin, fasisme merupakan salah satu upaya pengestetisan politik, yakni suatu kondisi yang mengubah politik menjadi produksi keindahan yang bahkan sampai pada detik ini kerap ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Secara tidak langsung, filem ini menjadi pengadilan estetis terhadap Hitler yang menggunakan metode mourning, yakni metode efek Freud yang memulihkan trauma terhadap citra Hitler. Aura propaganda menyelimuti keempat bagian dan disampaikan melalui arsip-arsip yang diselipkan di beberapa adegan, baik arsip foto maupun arsip audio.

16-08-23-15-55-37-046_photo

20160823_142103

Pembongkaran mitologis Hitler tersebut dilakukan dengan menggunakan pendekatan teatrikal a la Richard Wagner. Tatanan dekorasi, kostum, properti, dan bahkan musik yang digunakan diambil dari karya termashyur komponis opera Jerman di akhir abad ke-19, Der Ring des Nibelungen. Pembagian babak filem menjadi empat babak juga serupa dengan karya opera tersebut. Gaya Wagner sungguh tampak jelas dalam filem melalui pencampuran semua unsur seni (visual, puisi, seni peran, musik) yang dikenal dengan Total Art. Ironisnya, Hitler sendiri semasa hidupnya sama sekali tidak pernah secara langsung terjun dalam peperangan. Segala hal yang ia lakukan disetir oleh semua hasil laporan yang ia terima secara visual. Peperangan baginya seperti sinema dalam benaknya.

akbar 2

Durasi yang melebihi durasi umum filem ini—khususnya bagi penonton Indonesia kebanyakan—membuat pertunjukkan pada hari Selasa, tanggal 23 Agustus, 2016, tersebut dibagi menjadi dua bagian, pada pukul 13:00 dan 18:00, dengan jeda satu jam. Cara menonton semacam ini menjadikan pengalaman menonton yang unik karena semakin menyerupai pertunjukkan teater. Akan tetapi, tentu tidak mengherankan jumlah penonton semakin menyusut seiring berjalannya filem. Pada pemutaran paruh awal, tercatat 21 orang penonton sementara paruh akhir tercatat 12 penonton, bahkan pada akhir filem tersisa separuhnya, namun hal ini memang telah diprediksi oleh kurator.

Harry Hariawan, seorang mahasiswa tingkat akhir, mengakui bahwa kali ini merupakan pengalaman baru baginya dalam menikmati sebuah filem. Meskipun ia mengakui keluputannya dalam memahami secara langsung beberapa makna dari filem, untuk tahun pertamanya menjadi penonton dalam rangkaian pemutaran filem ARKIPEL, filem ini merupakan sesuatu yang luar biasa baginya. Berdasarkan pengalaman kurator, memang betul bahwa untuk menangkap jelas pesan dari Syberberg dalam filem ini, tidak mudah, tidak cepat, serta membutuhkan ketekunan yang luar biasa.

On “A Trial by Cinema” Screening Program

 

With 442 minutes in total, Hitler: A Film from Germany was one of the longest films that Kineforum ever screened. Directed by Hans-Jurgen Syberber, this film was produced in Western German, England, and French in 1977; and in Indonesia this year through ARKIPEL, and became part of curatorial program held by Akbar Yumni. Acting as film critics and Forum Lenteng member, he chose ‘A Trial by Cinema’ as its curatorial title as based on this movie, Adolf Hitler didn’t get the ‘punishment’ he deserved aesthetically.

According to Walter Benjamin, fascism was an effort to ‘aesthetisize’ politics; a condition where changing politics to beauty production was expected, and to this day we could find this kind of process. Indirectly, this film became an aesthetic judgement for Hitler, with Freudian mourning method that tried to recover a trauma from the image of Hitler. Propaganda nuance enveloped the 4th part of this film, through audio and visual archives.

Hitler’s myth and image deconstruction was conducted through Richard Wagner’s theatrical approach. Decoration, costumes, properties, and even music scoring used in this film were from the famous German opera composer in the end of 19th century, Der Ring des Nibelungen. Dividing films to four chapters was part of that theatrical approach. Wagnerian ambiance was easily identified through the mixing of artistic materials (visual, poetry, role playing, music), of which resulted in total art. Ironically, during his life and reign, Hitler never jumped into war. Every command that he made was derived from report that he received through visual materials. War, for him, was nothing but a mere cinema in his mind.

The ‘un-normal’ duration of this film made—especially for general Indonesian audiences—ARKIPEL divide the screening schedule on August 23rd in two parts; one was on 1 pm and the rest was on 6 pm. This could be peculiar experience since it was like a theater that needed interlude during its play. On its first part, there were 21 people, and then 12 people were watching on the second part, but at the end of screening, there were only half of them. However, this decreasing audience number was expected by Akbar.

Harry Hariawan, a senior student, admitted that it was his first time to enjoy such long film. Although he realized that he still missed and didn’t comprehend some parts of the narration. Nevertheless, for Harry this film was incredible. The curator agreed that it was hard to catch a glimpse through Syberberg’s film and we needed extraordinary preserverance.

Leave a Comment