In News

ARKIPEL Grand Illusion – 3rd Jakarta International Documentary & Experimental Film Festival yang diadakan oleh Forum Lenteng menghelatkan Opening Night pada Hari Sabtu, 22 Agustus, 2015, di Goethe Institute, Jakarta. Opening Night ini dihadiri oleh 200 lebih pengunjung yang terdiri dari tamu undangan, pelaku media, dan pengunjung umum yang berasal dari lokal maupun internasional.

Tepat pukul 19.20, acara dimulai dengan permainan piano oleh Aisha Pletscher Sudiarso, salah satu pendiri Sudiarso Duo yang memperoleh gelar Master of Music dari Manhattan School of Music, New York dan sekarang menjabat sebagai Direktur Bidang Akademis di Sekolah Musik Yayasan Pendidikan Musik dan anggota Komuite Musik Dewan Kesenian Jakarta. Empat lagu yang dibawakan Aisha adalah Tweede Afrikaanse Etude, Pagodas dari Estampes, Etude Op.2 No.2 dan ditutup dengan Sriwijaya Variations.

“Ada dua hal inspiratif yang ada pada ARKIPEL, yang pertama ialah eksperimental dan yang kedua ialah festival internasional,” ucap Irawan Karseno, Ketua Pengurus Harian Dewan Kesenian Jakarta, ketika memberi kata sambutan, usai penampilan Asiha. “ARKIPEL bukan lagi hanya sebagai sarana pewaris kebudayaan dunia, tetapi merekalah orang-orang yang dapat merekonstruksi peradaban dunia saat ini dengan internasional dan eksperimental. ARKIPEL ialah kado istimewa di bulan kemerdekaan kita.”

Yuki Aditya, Direktur Festival ARKIPEL, menjelaskan bahwa rangkaian acara dari tanggal 19-29 Agustus 2015 terbagi atas beberapa sesi, seperti Kompetisi Internasional, Program Kuratorial, Presentasi Khusus, Penayangan Khusus, Kurator Muda Asia, Penayangan Perdana, serta Peradaban Sinema Dalam Pameran. Tahun ini, ARKIPEL juga meluaskan spektrum program publik dengan menghadirkan dialog antarkurator, kuliah umum tentang distribusi filem dokumenter dan eksperimental, Master Class, diskusi terkait tema Grand Illusion, dan Forum Festival. Institusi lokal dan internasional diundang untung berbagi pengalaman, pengetahuan, dan jaringan, untuk mengamplifikasi persoalan sosial dan budaya lewat sinema.

Mengenai tema yang dibawa tahun ini, Hafiz Rancajale, pendiri Forum Lenteng, serta Ketua Komite Seni Rupa Dewan Kesenian Jakarta, yang berperan sebagai Direktur Artistik ARKIPEL, menjelaskan, bahwa media, khususnya filem, telah membentuk sebuah ilusi. Ilusi tentang realitas baru yang dikelola sedemikian rupa dengan tujuan tertentu yang memengaruhi kehidupan ekonomi, sosial politik, dan budaya, tetapi juga dapat memperkaya pengalaman interpretasi baru terhadap sejarah dan isu sosial-politik. Pemilihan tema Grand Illusion dipergunakan untuk membaca bagaimana ilusi-ilusi yang dibangun di media ini diproduksi, didistribusikan, hingga berdampak bagi perjalanan sebuah bangsa di berbagai belahan dunia yang lain. ARKIPEL, melalui tema Grand Illusion, diharapkan dapat memberikan pencerahan tentang bagaimana membaca persoalan kemanusiaan dalam masyarakat kontemporer.

Terdapat lima filem yang diputar dalam sebagai pembuka festival malam itu. Umi Lestari, salah satu dari Tim Seleksi, memperkenalkan profil singkat dari filem-filem tersebut. “Terdapat lebih dari 1200 judul filem yang didaftarkan, dan tak kurang dari 130 filem akan diputar selama penyelenggaraan ARKIPEL 2015.” Sebelumnya oleh Yuki Aditya, para juri, kurator, dan organizer dalam rangkaian acara ARKIPEL diperkenalkan.

Filem yang diputar, antara lain Beep karya Kyung Man Kim (Korea Selatan) yang bercerita tentang kebencian dan juga dukungan komunis antara dua negara, yaitu Korea Utara dan Korea Selatan. Filem ini bereaksi terhadap kenyataan tersebut dengan menggabungkan footage dan newsreel dengan fiksi propaganda yang sudah dimodifikasi; What Day Is Today? karya Colectivo Fotograma 24 (Portugal) yang bercerita tentang revolusi di berbagai negara dan pergolakan antarkelas yang sudah terjadi lampau hari, dan masih tetap aktual hingga kini. Filem ini menentang cara-cara konvensional untuk membuat filem dokumenter dan menggunakan teknik stop motion, memanfaatkan objek sehari-hari; Cinza atau Ashes karya Micael Espinha (Portugal) yang bercerita tentang hasil dari pemerintahan António de Oliveira Salazar dengan merangkai foto hitam-putih dalam satu pigura sejarah kelam Bangsa Portugal; lalu filem berjudul a.d.a.m. karya Vladislav Knezevic (Kroasia) yang menyinggung tentang pengawasan (surveillance). Pasalnya ialah imajinasi kamera, eksplorasi, dan permainan stereocospic 3D yang mampu menghidupkan gambar-gambar 2D dan mengindikasikan bahwa android bernama “a.d.a.m.” memiliki batasan sehingga tak semua data dapat dinarasikan; dan filem terakhir yang ditayangkan, berjudul Killing Time karya Rafi Shor (Israel) yang membawa nuansa sedikit berbeda dari filem-filem sebelumnya. Filem ini mampu membuat penonton tertawa. Filem bergaya fiksi komedi hitam tersebut mengangkat isu multikulturaisme di dalam fenomena diaspora bangsa-bangsa dengan kemasan yang jenaka dan aktual.

Selama Opening Night ini berlangsung, pengunjung mengikuti acara dengan tenang dan saksama. Rangkaian acara kemudian ditutup oleh penampilan Kasetan, duo musisi yang bereksperimen dengan kaset, yang mengubah suasana menjadi ramai kembali seperti saat sebelum acara dimulai. Seorang pengunjung lokal berkomentar: “Filem favorit saya filem keempat, a.d.a.m. Saya suka cara pembawaannya, silent yet chaos.” Lain lagi pendapat pengunjung asal Jerman, “Meskipun saya tak terlalu mengerti dua filem terakhir, saya mendapat pengetahuan di tiga filem pertama. Secara keseluruhan Opening Night ini menyenangkan! 8/10!”

ARKIPEL Grand Illusion – 3rd Jakarta International Documentary & Experimental Film Festival initiated by Forum Lenteng holds an Opening Night on Saturday, August 22nd, 2015, at Goethe Institute, Jakarta. There are more than 200 audiences, including the guests, media partners, and public visitors.

Aisha Pletscher Sudiarso, co-founder Sudiarso Duo who holds a Master of Music Deegre from Manhattan School of Music, New York, opens the event. She currently sits as the Director of Academic Affairs at the Musical School of Yayasan Pendidikan Musik. The member of Music Committee of the Jakarta Arts Council plays four compositions such as Tweede Afrikaanse Etude, Pagodas dari Estampes, Etude Op.2 No.2 and Sriwijaya Variations composed by Amir Pasaribu.

“ARKIPEL inspires us in two things, experimental and international festival,” said Irawan Karseno, the Head of  Jakarta Arts Council committee during the remrks speech. “ARKIPEL is not only the heir of the world culture, but also the people who can reconstruct our civilization with the concept of international and experimental. ARKIPEL is a special gift for us during this month of independence.”

After Karseno’s speech, Yuki Aditya as the ARKIPEL Festival Director explains that the whole events from 19-29 August, 2015, will be divided into several sections: Intenational Competition, Curratorial Program, Special Presentation, Special Screening, World Premiere, Asian Young Curator, and Cinema Culture in Exhibition. This year, ARKIPEL also expands the spectrum of the public program that would bring Curator’s Talk, a Public Lecture about distribution of documenter and experimental films, Master Class, Public Discussion on Grand Illusion and Festival Forum. Local and International Institutions are invited to share their experience, knowledge, and networking, to amplify and to highlights social and culture matters through cinema.

As explained by Hafiz Rancajale, founder of Forum Lenteng and currently sits as the head of Arts Committee of Jakarta Arts Council, ARKIPEL’s theme focused on the media, especially film, which shaped our illusion of reality. Illusion about the new reality is mnaged in such way to be the author’s goal on economic, socio-political, and cultural. Such consciousness leads us to enrich new interpretation of history and socio-political issues. Grand Illusion is used to read how illusions are produced, distributed, to affect a nation’s journey in vrious parts of the world. Hopefully ARKIPEL Grand Illusion enlighten us on how to read the humanitariania issues in this contemporary society.

There are five films will be screened in this opening ceremony. One of the selectors, Umi Lestari, introduces the films. She says, “there were more than 1200 films from submission, and only 35 films will be screened during International Competition program in ARKIPEL.”

The first film is Beep from Kyung Man Kim (Republic of Korea), about the rise of the hatred on communism in Republic of Korea. The film reacts to that reality by merging the footage and newsreel with propaganda fiction that has been modified. What Day is Today? from Collectivo Fotograma 24 (Portugal) talks about revolutions in various countries and the history of class struggle which are still relevant to be talked nowadays. Using ‘stop motion’ way in combining the history and various symbols, the film challenges the conventionals ways in making documentary. Cinza or Ashes by Micael Espinha (Portugal) arranges the collection of black-and-white photopgraphs to retell the dark history of Portuegese. On surveillance is presented by a.d.a.m. from Vladislav Knezevic (Croatia). Camera was imagined as the eye of android called “a.d.a.m.”, and the film naration flows through what this android sees. Using stereocospic 3D, the film enlived 2D photograps. The last film is Killing Time by Rafi Shor (Israel). This black comedy film can bring the audience burst of laugh through the characters who represent the multiculturalism issues on Arab and Israel.

The audiences follow the Opening Night calmly. After screening, Duo Kasetan closes the party, playing music through cassetes and a tape. One of the visitors comments, “I favor a.d.a.m. This film is silent yet chaos.” Another comments come from visitor from Germany. He says, “Although I could not understand two of the last films, I could get new experience from three of first film. The Opening Night totally fun. 8/10.”

Leave a Comment