11 – 21 September 2014

FA Facebook Cover ARKIPEL 2014

  • 10:00
  • 11:00
  • 12:00
  • 13:00
  • 14:00
  • 15:00
  • 16:00
  • 17:00
  • 18:00
  • 19:00
  • 20:00
  • 21:00
  • 22:00
  • 23:00
 
  • 10:00
  • 10:30
  • 11:00
  • 11:30
  • 12:00
  • 12:30
  • 13:00
  • 13:30
  • 14:00
  • 14:30
  • 15:00
  • 15:30
  • 16:00
  • 16:30
  • 17:00
  • 17:30
  • 18:00
  • 18:30
  • 19:00
  • 19:30
  • 20:00
  • 20:30
  • 21:00
  • 21:30
  • 22:00
  • 22:30
  • 23:00
  • 23:30
 

Forum Lenteng

ARKIPEL Headquarter

 

GoetheHaus

Goethe-Institut

 

kineforum

Taman Ismail Marzuki

 

Graha Bhakti Budaya

Taman Ismail Marzuki

 

Gedung PFN

Produksi Film Negara

CINEMA EXHIBITION
September 21st 17:30 - 21:00
MOVING IMAGE COLONY: LUMIÈRE (1896 - 1900)
Pada perhelatan kedua ARKIPEL Electoral Risk – Jakarta International Documentary & Experimental Film Festival 2014, akan diselenggarakan seri pertama dari Peradaban Sinema Dalam Pameran57 yang akan menghadirkan persebaran sinematografi ke Asia, Afrika, dan Amerika Latin, dengan tajuk Jajahan Gambar Bergerak: Lumiere (1896-1900). Pameran ini akan diselenggarakan di gedung laboratorium filem Produksi Film Negara (PFN) yang memiliki hubungan kesejarahan terhadap sinema Indonesia di masa kolonial.58 Setiap tahunnya, ARKIPEL – Jakarta International Documentary & Experimental Film Festival akan menyelenggarakan seri Peradaban Sinema Dalam Pameran yang mencoba membaca kembali kepingan-kepingan arsip sinema Indonesia dan relevansinya dengan peradaban sinema dunia. Pameran arsip ini lebih mengkhususkan pada pembacaan bagaimana visual representasi kenyataan yang dihasilkan oleh teknologi sinema itu, termasuk juga bagaimana teknologi itu sendiri dalam mengintervensi bahasa visual representasinya. Setiap serinya, pameran arsip ini akan menghadirkan tema-tema spesifik yang muncul dalam linimasa peradaban sinema dunia, khususnya filem dokumenter dan eksperimental. Dalam beberapa tahun mendatang, Peradaban Sinema Dalam Pameran akan khusus menghadirkan tema tentang Jajahan Gambar Bergerak. Jajahan dalam pameran ini lebih menitikberatkan kepada bagaimana moda kerjagambar bergerak itu sendiri dalam menyebarluaskan dan mentransfer piranti lunak (ide) dan juga logika kerja piranti keras (materi teknologi) yang dapat mewujudkan gagasan gambar bergerak ke seluruh dunia.
On the second event of ARKIPEL Electoral Risk – 2nd Jakarta International Documentary & Experimental Film Festival 2014, we are organizing the first series of Cinema Culture in Exhibition58 that will present the distribution of cinematography to Asia, Africa, Latin America, with the title Moving Image Colony: Lumiere (1896-1900). The exhibition will be held at film laboratory building of Perusahaan Film Negara (PFN) that has the historical connectivity with colonial cinema.59 Every year, ARKIPEL – Jakarta International Documentary & Experimental Film Festival will be organizing series of Cinema Culture in Exhibition which tries to reread pieces of archives on Indonesian cinema and its relevance to the world’s cinema culture. This archives exhibition is specializing on the reading of visual representation on reality that resulted by that cinema technology, including the role of that technology in intervening its visual representation language. In every series, this archives exhibition will present specific themes which emerge in the timeline of the world’s cinema culture, especially documentary and experimental films. In the years to come, Cinema Culture in Exhibition will present the theme about Moving Image Colony in particular. The colony in this exhibition will be emphasizing on how the moving images’ mode of production can disseminateand transfer the software (idea) and the work logic of the hardware (technological material) in order to realize the notion of moving images all over the world.
 
 

Cinema XXI

Taman Ismail Marzuki

 

Paviliun 28

 

RUANG PLENO DKJ

Taman Ismail Marzuki

 

News

  • About Timetable

    Anda dapat mencetak jadwal harian kegiatan selama festival filem ARKIPEL 2014 dengan menekan tombol bergambar Printer di bagian kanan atas dari Timetable. Maka akan keluar Tab baru yang merupakan jadwal hari tertentu yang siap dicetak.

    Anda juga dapat menambahkan satu atau beberapa program ke dalam wish list harian dengan memilih satu program tertentu. Lalu akan muncul tulisan “Add to Program” di kanan bawah program tersebut, tekanlah. Setelah itu tekan lagi tombol Printer di bagian kanan atas Timetable, maka akan keluar Tab baru yang merupakan jadwal harian dengan penanda kegiatan yang telah Anda pilih dan siap dicetak.

    You can print the daily schedule during ARKIPEL 2014 by clicking the ‘PRINTER’ button on the top-right side of the Timetable. Then a new Tab is opened showing that day’s schedule ready to be printed.

    You can also add one or several programs onto your daily wish list by clicking on certain program. Then an “Add to Program” button will show up, where you can click on it. After that click the Printer button on top-right side of the Timetable, a new tab will be opened which is the daily schedule includes the program/s you marked beforehand and ready to be printed.

    SCHEDULE INFO

    PROGRAMS

    Opening Night

    International Competition / IC

    1, 2, 3 / EXPERIMENTATION AS POLITICAL WILL
    4 / POSITION AND DISCOURSE OF THE PRESENT CINEMA EXPERIMENTATION
    5 / ON MEDIUM AND REPRESENTATIONALISM
    6 / LOCATION AND DYSTOPIA
    7, 8 / HISTORY IN THE RECIPROCITY OF SUBJECT-OBJECT

    CP / Curatorial Program

    SOUTH ASIA 1, 2, 3, 4 / SOUTH ASIA IN SPATIAL NEGOTIATION
    UPRISING / THE RISK OF THE NEW UPRISING AGAINST THE MEDIA (FILM)
    KLUGE 1, 2, 3, 4 / MARXISM IS SOMETHING FILMIC
    SOUTH AMERICA 1, 2 / OUTSIDE THE THIRD CINEMA

    E / Exhibition

    SP / Special Presentation

    IF 1, 2 / IMAGES FESTIVAL
    BEFF 1, 2 / BANGKOK EXPERIMENTAL FILM FESTIVAL
    YIDFF 1, 2 / YAMAGATA INTERNATIONAL DOCUMENTARY FILM FESTIVAL
    APOCALYPSE
    OGAWA 1, 2, 3 / SHINSUKE OGAWA
    FRAGMEN!

    SS / Special Screening

    MARAH DI BUMI LAMBU
    HALAMAN PAPUA

    WP / WORLD PREMIERE: Rang Jebor

    D / DISCUSSIONS

    MEDIA, ACTIVISM AND FILM SCHOOL
    CONTEMPORARY MARXISM: BETWEEN TEXT AND IMAGE

    W / WORKSHOP

  • Notes from the Festival Director

    Festival filem penting bagi masyarakat. Dalam konteks ARKIPEL, wilayah ini merupakan fenomena tersendiri yang memiliki implikasi ekonomi, imbas sosial-politik, dan agendanya sendiri. Gagasannya adalah untuk menyuarakan bagaimana persoalan-persoalan kebudayaan tersebut dapat dibaca dan dilakukan dalam bentuk peristiwa kebudayaan, yaitu festival filem.Bagi seniman, festival filem adalah salah satu jalur distribusi yang ekonomis, dan selalu ada kesempatan membangun jaringan di wilayah tersebut. Hubungan yang lebih intim juga terjadi dengan adanya umpan balik secara langsung dari penonton, kurator, juri, maupun dari rekan seniman lainnya. Peristiwa perkenalan terjadi, kolaborasi tercipta, dan peluang alternatif muncul.

    Pondasi utama ARKIPEL – Jakarta International Documentary and Experimental Film Festival adalah aktivisme, pengarsipan, dan kritik. Tiga hal tersebut tetap dihadirkan dalam pengorganisasian festival dan program-program yang berlangsung selama ARKIPEL Electoral Risk –Jakarta International Documentary and Experimental Film Festival 2014.

    Penyelenggaraan kali kedua, ARKIPEL Electoral Risk –Jakarta International Documentary and Experimental Film Festival 2014, mempunyai rentang waktu yang lebih panjang dari tahun lalu, yaitu dari 11-21 September, 2014, bertempat di Studio XXI dan Kineforum (Taman Ismail Marzuki), Goethe Institut Jakarta, Graha Bhakti Budaya, dan Gedung Produksi Film Negara.

    Tahun ini kami juga menyelenggarakan pameran sinema, bertajuk “Jajahan Gambar Bergerak” yang akan dimulai pada 14 September sampai 21 Oktober, 2014, di kawasan Produksi Film Negara (PFN). Pameran sinema ini rencananya akan diadakan setiap tahun untuk merayakan sinema dan sejarah di belakangnya secara kronologis, dengan tema besar Peradaban Sinema dalam Pameran. Pada seri pertamanya di tahun ini, ARKIPEL akan menampilkan filem-filem dari Lumiére Bersaudara yang merupakan pijakan awal bagaimana di kala lahirnya sinema sudah mempunyai fungsi dan kegunaan yang bukan hanya sebagai medium hiburan.

    Berbicara tentang awal lahirnya sinema, tidak bisa lepas dari kata eksperimentasi. Medium filem lahir dari proses eksperimentasi. Kali ini, ARKIPEL berkolaborasi dengan Lab Laba Laba dalam pelatihan film processing dengan medium seluloid yang sudah terhimpit di era digital ini. Pelatihan ini bermaksud memperkenalkan metode film processing kepada anak-anak dan khalayak umum, dengan tujuan agar mereka kenal dan awas dengan pengarsipan serta potensinya. Pilihan-pilihan semacam itu harus terus dihadirkan supaya daya kreasi tidak berjalan di tempat dan eksperimentasi serta inovasi, khususnya dalam ranah sinema, terus hidup.

    Kerjasama dengan Produksi Film Negara (PFN) adalah strategi bagi tempat berlangsungnya pelatihan film processing. Ada banyak arsip penting di sana dan di suatu waktu merupakan salah satu tempat produksi strategi kebudayaan terbesar di Indonesia. Pelatihan ini melibatkan para fasilitator, baik dari Lab Laba-Laba sendiri maupun seniman mancanegara, yaitu Scott Miller Berry (Kanada), Hasumi Shiraki (Jepang), dan Richard Tuohy (Australia). Kerjasama ini dibangun untuk terciptanya kolaborasi antara lab-lab independen dan juga untuk memperkenalkan eksperimentasi dengan medium seluloid dalam proses produksi filem.

    * * *

    Tahun ini, Pemilihan Legislatif dan Pemilihan Presiden dilaksanakan di Indonesia. Dengan semakin terbukanya akses informasi, partisipasi aktif dilakukan masyarakat, mulai dari mencari informasi hingga mengawasi kandidat-kandidatnya untuk dipilih. Resiko, tantangan, dan harapan besar jadi taruhannya.

    Tema besar ARKIPEL tahun ini adalah “Electoral Risk” yang mencoba menanggapi situasi sosial-politik dunia, khususnya di Indonesia, belakangan ini. Tema tersebut disisipkan selama proses seleksi 320 filem terdaftar pada seksi Kompetisi Internasional. Sebanyak 29 filem terpilih dari 19 negara pada proses seleksi selama dua bulan. Resiko, tantangan, dan harapan kami pun, sebagai penyelenggara ARKIPEL, ada dalam pilihan-pilihan itu untuk bisa terus menemukan hal-hal yang baru dari sinema.

    Bagi kami, sinema juga adalah gerbang negara dan kebudayaan, ke tempat mereka-mereka yang tinggal jauh di sana. Sinema menciptakan dorongan untuk belajar lebih, menemukan apa yang selama ini tersembunyi di seberang lautan sana. Salah satu tujuan ARKIPEL adalah membangun jembatan panjang yang menghubungkan kepulauan di samudera Hindia ini dengan pulau-pulau di bagian bumi lain. Untuk itu, tahun ini kami kembali berkolaborasi dengan Images Festival (Kanada) dan Bangkok Experimental Film Festival (Thailand), serta membangun jembatan baru dengan Yamagata International Documentary Film Festival (Jepang). Kolaborasi dengan lembaga-lembaga di atas adalah salah satu langkah penting dalam membangun jaringan antara festival filem yang secara otomatis juga membuka akses, baik dalam hal distribusi maupun pengetahuan yang lebih luas, bagi masyarakat Indonesia dalam ranah filem dokumenter dan eksperimental.

    Kami haturkan banyak terima kasih kepada mereka yang telah berpartisipasi dan membantu terselenggaranya kembali ARKIPEL tahun ini. Semoga, pada penyelenggaraan-penyelenggaraan selanjutnya, kerja sama dengan institusi maupun individu lain, semisal pemerintah sebagai salah satu stakeholder dalam perkembangan sinema di Indonesia, dapat lebih terlibat untuk tujuan yang jelas demi pendidikan dan pengetahuan sinema.

    Jakarta, 16 Agustus, 2014

    Yuki Aditya

    Film festival is important for society. In the context of ARKIPEL, this domain is a particular phenomenon that has economic, social and political implications, with its own agenda. The idea is to voice the readings of cultural problems, and this is done in the form of a cultural event, which is film festival.

    For artists, film festivals are an economical distribution channel, and there’s always a chance for them to build networks there. More intimate relations also occur through direct feedbacks from audiences, curators, jury, and other fellow artists. Acquaintanceships take place, collaborations spawn and alternative opportunities emerge.

    The main foundations of ARKIPEL International Documentary and Experimental Film Festival are activism, archiving and criticism. Those three subjects remain present in the organizing of the festival and programs which will last during ARKIPEL Electoral Risk – Jakarta International Documentary and Experimental Film Festival 2014.

    This event of ARKIPEL Electoral Risk – Jakarta International Documentary and Experimental Film Festival 2014 has a longer duration than that of last year, which is 11-21 September 2014, locating at Studio XXI and Kineforum (Taman Ismail Marzuki), Goethe Institut Jakarta, Graha Bhakti Budaya and Gedung Produksi Film Negara.

    This year we are also organizing a cinema exhibition under the title “Jajahan Gambar Bergerak” (“Moving Image Colony”) that will start on 14 September to 21 October 2014 at Produksi Film Negara (PFN). This cinema exhibition is to be organized annually to celebrate cinema and its history in chronological order of which the main theme is Cinema Culture in Exhibition. For the first of its series this year, ARKIPEL presents the films from the Lumiére Brothers which are foundation of early cinema regarding its different function and use other than a mere entertainment medium.

    Speaking about the birth of cinema, we cannot pass the word experimentation. Film medium was born from a process of experimentation. This time, ARKIPEL collaborates with Lab Laba Laba in organizing a training of film processing using celluloid medium which is wiped out in this digital era. This training intends to introduce the film processing method to children and general public so that they are familiar to and aware of archiving and its potentials. This kind of alternatives must remain present in order to avoid creative stagnancy and keep alive experimentations and innovations, particularly in cinema.

    The collaboration with Produksi Film Negara (PFN) is a strategy in terms of providing a place for the film processing training. There are many important archives there, once upon the time being the site of the greatest cultural strategy production in Indonesia. The training involve facilitators from Lab Laba-Laba and also foreign artists, such as Scott Miller Berry (Canada), Hasumi Shiraki (Japan), and Richard Tuohy (Australia). This cooperation is built to create collaborations among independent labs and to introduce experimentation with celluloid medium in the film production process.

    * * *

    This year, Indonesia held its Legislative Elections and Presidential Elections. Given a more open access for information, the public involved in active participations, from searching for information to monitor elected candidates. Risks, challenges and high hopes were at stake.

    The major theme of ARKIPEL this year is “Electoral Risk” as it tries to respond to world social and political situations, especially in Indonesia recently. The theme appeared during the selection process of the registered 320 films in the International Competition section. During two months of the selection process, 29 films from 19 countries has been selected. Our risks, challenges and hopes, as the organizer of ARKIPEL, are reflected in those selections to keep discovering new issues in cinema.

    For us, cinema is also a gate of the country and the culture, allowing us to travel to remote places. Cinema creates drives to learn more, finding what’s hidden all this time across the ocean. One of ARKIPEL’s objectives is to build a long bridge that connects islands in this Indian ocean with islands in other parts of the world. Therefore, this year, once again we collaborate with Images Festival (Canada) and Bangkok Experimental Film Festival (Thailand), also build a new bridge with Yamagata International Documentary Film Festival (Japan). This collaboration with these institutions is one of the important steps to build networks among film festivals which will automatically also open accesses whether in terms of distribution or wider knowledge sharing for Indonesian society of documentary and experimental film.

    We would like to say thank you to those who have participated and facilitated the organizing of ARKIPEL this year. Hopefully, cooperations with institutions and individuals in the future, such as governmental institution as one of the stakeholders in the development of Indonesian cinema, can be enhanced for the sake of education and knowledge in cinema.

    Jakarta, 16 August 201

    Yuki Aditya

  • Kompetisi Internasional / International Competitions

  • Venues Maps

    kineforum

    Taman Ismail Marzuki
    (Belakang Galeri Cipta 3)
    Jl. Cikini Raya 73, Jakarta Pusat – 10330
    Indonesia

    website

    GoetheHaus

    Pusat Kebudayaan Jerman – Jakarta
    Jl. Sam Ratulangi 9-15
    Jakarta – 10350
    Indonesia

    website

    Graha Bhakti Budaya

    Taman Ismail Marzuki
    Jl. Cikini Raya 73, Jakarta Pusat – 10330
    Indonesia

    website

    Gedung PFN (Produksi Film Negara)

    Jl Otto Iskandardinata 125-127
    Jakarta – 10330 Indonesia

    Cinema XXI TIM

    Taman Ismail Marzuki
    Jl. Cikini Raya 73, Jakarta Pusat – 10330
    Indonesia

    website