Agenda
28/8/2013
Teater Studio, Teater Kecil – TIM

10.00 – 11.30

Pembicara Speakers
Bowo Leksono (Festival Film Purbalingga) &
Abduh Azis (Koalisi Seni Indonesia)

Moderator
Forum Lenteng

Independensi dan industri merupakan dua pilihan yang lazim ada dalam wilayah perfileman dimanapun. Keduanya tidak harus saling bertentangan tapi bisa berjalan beriringan. Kegiatan aktivisme dalam perfileman Indonesia hadir untuk menyajikan tontonan alternatif maupun edukasi media filem dalam bentuk yang dekat dan langsung kepada masyarakat.

Perkembangan aktivisme filem menjadi wadah apresiasi sekaligus wadah pembuat filem independen, tidak terlepas dari loncatan perkembangan piranti teknologi kamera sebagai alat dasar pembuatan filem yang didistribusikan di masyarakat luas. Seperti di tahun 1970an, ketika semula menggunakan seluloid 16 mm dan 8 mm, beralih menggunakan pita magnetik kaset video. Lalu ketika revolusi digital berlangsung pasca Reformasi 1998, kemudahan pengoperasian kamera dan peralatan filem lainnya seperti perangkat editing yang relatif mudah diakses dan berharga murah telah mendorong gelombang euforia membuat filem di kalangan masyarakat yang lebih luas lagi. Namun, euforia kemudahan dalam hal teknis ini tidak diimbangi dengan euforia distribusi pengetahuan filem yang seharusnya semakin mudah diperoleh, terutama ketika akses internet telah menyebar ke seluruh pelosok Indonesia.

Terputusnya jalur distribusi pengetahuan ini kemudian dijembatani oleh kelompok-kelompok yang mengupayakan distribusi pengetahuan filem melaui berbagai macam kegiatan produksi dan distribusi filem. Dalam rentang 10 tahun, kelompok-kelompok yang tersebar hampir merata di berbagai daerah di Indonesia ini telah memiliki peran yang sangat penting bagi perkembangan filem Indonesia, terutama terdistribusikannya pengetahuan sinema yang menjadi pondasi penting dalam membangun struktur perfileman nasional.