Purchasing Ambien Zolpidem Cheapest Get Zolpidem Online Generic Ambien Online Cheap Buy Zolpidem Online Paypal
 In ARKIPEL 2017 - Penal Colony, Curatorial Program, Festival Updates, Film Screening Reviews
Bahasa Indonesia

Mencari Citra yang Hilang

“Selamat siang semuanya, selamat datang di program kuratorial saya,” sapa Akbar Yumni di hadapan 24 penonton yang duduk tersebar di kursi-kursi. Sebelumnya, Akbar menghampiri saya di ruang tunggu Kineforum yang baru saja mengeluarkan katalog ARKIPEL 2017 dari dalam tas. Akbar meminta saran bagaimana mengalihbahasakan judul filem karya Usmar Ismail yang akan diputar ke dalam Bahasa Inggris mengingat Jean-Marie Teno, salah satu juri di ARKIPEL Penal Colony – 5th International Documentary and Experimental Film Festival sekaligus sutradara dan tokoh penting sinema Afrika, juga akan hadir menikmati program kuratorial tanggal 22-23 Agustus 2017 itu.

Salah satu karya dari sutradara pelopor dalam membangun identitas filem nasional Indonesia yang saya akan tonton di hari pertama berjudul Anak Perawan di Sarang Penyamun (1962). Filem ini diadaptasi dari novel Sutan Takdir Alisjahbana yang terbit 30 tahun sebelum difilemkan oleh Usmar Ismail. Barangkali, pikir saya, judul dari novel dan filem inilah yang menginspirasi candaan ayah saya yang dulu sering ia lontarkan ketika saya sedang bermain dengan sekumpulan anak laki-laki saat masih kecil.

Sang kurator, Akbar Yumni, yang sekaligus kritikus filem dan seni serta anggota Forum Lenteng, kemudian berusaha untuk menjelaskan sedikit mengenai filem itu dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris, terutama karena tidak tersedianya subtitle dalam Bahasa Inggris sepanjang filem. Dalam sapaan dan penjelasannya, Akbar mengingatkan penonton bahwa akan ada sesi diskusi di akhir filem. Setelahnya, lampu bioskop dimatikan, menyisakan jeda keheningan sebelum filem dimulai.

Bercerita tentang sekawanan penyamun yang tinggal di dalam hutan. Suatu hari saat tengah merampok Haji Sahak, sekawanan penyamun yang dipimpin oleh Medasing ini bertemu dengan Sayu. Alih-alih membunuh Sayu seperti yang mereka lakukan kepada kedua orang tuanya, Sayu dibawa ke sarang mereka.

Sayu ternyata menjadi katalisator di tengah mereka. Kehadiran Sayu yang baik dan rajin beribadah menyebabkan terjadinya perubahan dan menimbulkan kejadian baru; ingin mendapatkan Sayu untuk diri mereka sendiri atau justru membenci perubahan yang terjadi dan ingin melenyapkan Sayu karena dianggap ‘yang liyan‘. Pertikaian antara satu sama lain dan pengkhianatan pun terjadi. Satu per satu kawanan penyamun itu tewas dan hanya menyisakan Medasing seorang yang sedang terluka parah sehabis gagal merampok.

Dalam kesendiriannya, Sayu-lah yang menemani sekaligus mengobati Medasing. Lama kelamaan keduanya saling membuka hati dan diri. Medasing bercerita kalau ia dulunya juga dibawa oleh sekawanan penyamun yang membunuh kedua orang tuanya dan mengangkatnya menjadi anak. Ia diajari untuk merampok dan membunuh.

Pergulatan mengenai dua posisi ‘moralitas‘ sebagai plot (muthos) antara Medasing dan Sayu terlihat jelas di filem ini. Patutlah juga saya mengakui kehebatan Usmar Ismail sebagai sutradara, yang menerjemahkan bahasa sastra (tekstual) ke dalam bahasa elemen visual (opsis). Image lanskap hutan menjadi apa yang disebut oleh Victor Turner sebagai liminalitas, bahwa perubahan seseorang yang disebabkan oleh pengaruh kebudayaan yang berbeda dari daerah asalnya menimbulkan seseorang tidak mengikuti baik daerah asal maupun daerah baru yang ditempati, dari pergulatan dua posisi ‘moralitas‘ itu.

Esoknya, masih di tempat dan program kuratorial serta kurator dan jam yang sama, saya menonton satu filem lagi yang berjudul L’image manquante atau The Missing Picture (2013). Apa yang ingin disampaikan Akbar melalui karya Rithy Panh dari Kamboja ini tidak jauh berbeda dari filem pertama, yaitu mengenai image. Bedanya, kali ini saya hanya ditemani 10 orang yang duduk tersebar di Kineforum.

Filem ini kemudian sukses menarik perhatian saya. Filem berdurasi 92 menit ini berbicara mengenai pencarian image yang hilang di masa lalu. Melalui pengalaman pribadi sutradara yang buruk di masa rezim Khmer Merah tahun 1975 dan hanya menemukan arsip footage-footage yang diproduksi Khmer Merah berisi image propaganda yang menjanjikan. Namun kenyataannya, janji tetaplah sebuah janji. Yang dirasakan oleh Panh ternyata berbeda dari janji manis yang ditawarkan Khmer Merah.

Dengan menggunakan diorama-diorama dari tanah liat, yang menurut saya menarik karena menggabungkan footage yang ia temukan dengan diorama, Panh tidak berusaha untuk menggantikan image itu—yang sudah dikonstruksi oleh Pol Pot –maupun untuk menemukan image yang hilang. Panh justru menampilkan proses pencariannya itu sendiri. Dari diorama-diorama sederhana yang ia gunakan dalam filemnya, saya bisa merasakan ketegangan mulai dari awal hingga filem berakhir.

Kedua filem ini sebenarnya menarik untuk diperbincangkan lebih jauh, terutama mengenai image atau citra yang masing-masing ditunjukkan oleh keduanya. Namun sayangnya, sesi diskusi tidak berjalan dengan baik di kedua acara pemutaran kedua filem tersebut. Barangkali ada saja kebingungan yang muncul di pikiran, namun tidak satu pun kata yang terucap keluar dari mulut penonton, termasuk saya. Jujur saja, sebagai penulis yang mencoba mempelajari sinema, hal ini menyisakan pertanyaan yang terus menggema dalam perjalanan pulang. Atau mungkin juga, gema itu adalah salah satu wujud dari kekuatan sinematik dua filem yang sudah saya tonton itu. ***

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Contact Us

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, asap.

Not readable? Change text. captcha txt

Start typing and press Enter to search

X