Aktivisme dan Kesenangan di Dalamnya

 

PERLAWANAN politik membutuhkan tak hanya perjuangan yang bermakna, tetapi juga kesenangan. Dalam perjuangan politik yang memakan waktu lama, kesenangan atau joyeux tak hanya merefleksikan keputusan pribadi, tetapi juga keyakinan atas isu yang tengah diperjuangkan.

Ruth Noack dalam Festival Forum ARKIPEL social/kapital – 4th Jakarta International Documentary & Experimental Film Festival yang dihelat pada Kamis, 18 Agustus 2016 di Goethe Institute Jakarta memaparkan pidatonya yang bertajuk Once Again – Agency in Cinema. Pidatonya dimulai dengan sebuah gambar dua orang perempuan yang tengah beraktivitas di seputar batang pohon. Di bagian atas gambar tertulis angka ‘1831’ dan di bagian bawahnya tertulis ‘CAMOUFLAGE’. Penulis, kritikus seni, dosen serta ekshibitor asal Jerman ini kemudian memaparkan tentang urgensi agensi dalam sinema. Menurut Noack, agensi berarti bahwa seorang individu atau kelompok memiliki kemampuan untuk terlibat secara aktif dengan lingkungan sosial dan mempunyai pengaruh terhadap bentuk maupun muatan dari kondisi sosial tersebut.

noah 1

Dalam acara yang dibuka dan dimoderatori oleh Hafiz Rancajale pendiri Forum Lenteng sekaligus Direktur Artistik ARKIPEL, diungkapkan oleh Ruth bahwa agensi merupakan hal yang sangat personal, namun di sisi lain juga sangat politis. Ia lahir dari sesuatu yang kita percayai secara pribadi dan seringnya bersifat emansipatif karena ia tak bisa lepas dari kondisi sosial di sekitar. Dalam hal ini, relasi kuasa yang berpengaruh terhadap keseharian kita bisa menjadi sumber munculnya agensi. Kesenangan yang lahir dari perjuangan atas keyakinan pribadi inilah yang menurut Noack menjadi faktor penting dalam agensi.

Dalam sinema, para pembuat filem dan kritikus filem meraih agensinya melalui perlawanan terhadap industri filem arus utama sejak akhir tahun 1960-an. Melalui perlawanan tersebut, para pembuat filem dan kritikus ini tak hanya memproduksi karya, tetapi juga memproduksi identitas dirinya sendiri. Suatu aktivisme yang dibarengi oleh kesenangan berkarya. Dengan kata lain, agensi memang sebetulnya tak bisa dilepaskan dari perjuangan politik yang personal. Membahas hal ini lebih jauh, Ruth memutarkan sejumlah cuplikan filem tentang agensi dalam sinema, terutama terkait emansipasi perempuan. Noack sendiri mengaku sebagai seorang feminis yang meraih agensinya melalui perjuangan hak kaum perempuan.

Saya pun tak kuasa menahan kikik selagi berpikir ketika menonton cuplikan filem dari Noack yang berjudul Numero Deux. Tak pelak, gambar pun memiliki sebuah proses produksi di mana mau tak mau di dalamnya ada pesan yang terinvestasi baik secara politis maupun tidak. Agensi pun menjadi penting agar seseorang atau suatu kelompok dapat terlepas dari rasa rapuh dan ketakutan akan kekuatan eksternal yang dapat membatasi kesezamanannya. Filem melalui kekuatan visualnya pun mampu menjadi karya yang mengaktivasi pikiran. Yang artinya, selagi berkarya dan memproduksi identitas diri, seorang pembuat filem pun dapat pula menganyam perubahan sosial yang ia inginkan.

Diskusi yang dihadiri oleh KOMPAS dan 42 peserta dari berbagai komunitas pegiat filem ini berjalan khidmat terlepas dari kasak-kusuk peserta yang terlambat datang. Beberapa kurator internasional yang menjadi tamu undangan pun turut menghadiri sesi pertama Festival Forum ini. Pada sesi tanya jawab, Manshur Zikri dari Forum Lenteng dan pengurus harian AKUMASSA memaparkan bahwa aktivisme pada masyarakat Indonesia kerap kali terbentur norma-norma sosial yang mengikat, terutama terkait agama dan emansipasi perempuan. Kesadaran akan aktivisme untuk memperjuangkan kepentingan politik atau identitas kultural belum mencapai suatu titik seperti yang dilakukan pada contoh Noack tadi, terutama dalam konteks seni visual. Di Indonesia, aktivisme sinema tampaknya masih sekadar berada pada tahap kebutuhan melawan atau menandingi kekuatan arus utama. Kurangnya kesadaran atas apa yang dicontohkan Noack tersebut, kemudian menuntut strategi lain namun tetap pada jalur yang juga memperjuangkan kepentingan-kepentingan politis. Itu juga, salah satunya, yang dilakukan Forum Lenteng melalui AKUMASSA.

noah 4

Menyambung komentar ini, Ruth menekankan bahwa represi memiliki beragam bentuk dan bisa jadi sangat kompleks. Sehingga pada saat yang sama, kita harus terus berjuang meskipun berbarengan dengan itu kita pun tak bisa untuk tak terus melupakan.

Sejalan yang disampaikan oleh Ruth, agensi perlu mengubah sesuatu dalam masyarakat dan hal ini membutuhkan adanya aktivasi, sekurang-kurangnya aktivasi pikiran. Sebagaimana yang tengah dilaksanakan Forum Lenteng melalui ARKIPEL dan khususnya Festival Forum.*

Activism and the Pleasure Within

 

POLITICAL struggle needs not only a meaningful struggle but also pleasure. In long time period of political struggle, pleasure or joyeux not only reflects personal decision but also faith upon the issues we fight for.

Ruth Noack in Festival Forum of ARKIPEL social/kapital – 4th Jakarta International Documentary & Experimental Film Festival held in Thursday, August 18th 2016 in Goethe Institute Jakarta explained it in her speech by title Once Again – Agency in Cinema. Her speech was started with a picture of two women doing some kind of activities around the trunk of a tree. On the upper part of the picture, there was a writing ‘1831’ and in the lower part was a writing ‘CAMOUFLAGE’. This author, art critic, lecturer and exhibitor from Germany explained the urgency of agency in cinema. According to Ruth Noack, agency means that an individual or a group has the capability to engage actively with the social sphere and have some influence on its forms and contents.

In the occasion opened and moderated by Hafiz Rancajale, the founder of Forum Lenteng as well as Artistic Director of ARKIPEL, it was explained by Ruth that agency was very personal but also very political. It came from something we believed in personally and often emancipatory. It cannot be separated from the social life that goes on around it. In this sense, the influence of power relation toward personal life becomes a good source for the emersion of agency. According to Ruth, pleasure that comes from this kind of struggle toward personal faith is an important matter within agency.

In cinema, the filmmakers and critics achieve their agency through their resistance toward mainstream film industry since the end of 1960s. Through that resistance, they produce not only works but also the self. Thus the agency cannot be separated from political struggle. Talking about such matters, Ruth Noack presented us some footages related to agency in cinema, particularly related to women emancipation. Ruth herself is a feminist who achieved her agency through the struggle for women’s rights.

I couldn’t help to giggle and thinking at the same time when I watched the footages from Numero Deux in Ruth’s presentation. Even pictures were manufactured and messages might be invested deliberately in them, politically or not. Agency is an urgent matter so that an individual or a group can be freed from vulnerability and fright upon external power that might limit one’s contemporaneity. Film through its visual power can create activation toward minds. This means that while producing works, the filmmaker can produce the self and also braiding social changes wanted.

The discussion was attended by KOMPAS and 42 participants from various film activists’ community. It was held solemnly despite of the sounds made by some late participants. Some foreign curators invited by ARKIPEL 2016 also joined the first session of this Festival Forum. In comment session, Manshur Zikri from Forum Lenteng and daily organizer of AKUMASSA said that activism in Indonesia was still stumbled upon the binding social norms, especially when it comes to women emancipation issues. The awareness toward activism to fight for political purpose or cultural identity has not reached a point as mentioned in the earlier presentation by Ruth, particularly in the context of the visual arts (and cinema). In Indonesia, cinema activism seems still merely a need to fight or to compete or to counter the mainstream power. Due to the lack of awareness on what was exemplified by Noack then demanded an alternative strategy, but it still remained on a track that also fought for political interests. That was, among others, pursued and encouraged by the Forum Lenteng through AKUMASSA.

Continuing this comment, Ruth emphasized that repression has various kind of forms and it can be very complex. Thus in the same time, we need to keep struggling even though inevitably we also keep forgetting.

As told by Ruth, agency needs to change something in society and this requires activation, at least the activation of mind. And this is what Forum Lenteng does through ARKIPEL, especially Festival Forum.*

Leave a Comment