In News

Intimitas: Pengertian-pengertian Baru Representasi dalam Pendekatan Medium

 

Menurut Walter Benjamin, jarak antara mata kamera dan realitas sesungguhnya bukan jarak alamiah, mediasi dari medium menjadikan sebuah mata kamera adalah jarak yang sanggup menciptakan sebuah penyingkapan baru. Hal ini tentu berdampak pada bagaimana sebuah mata kamera ketika membidik objek-objek keseharian dalam kesadaran kita, menjadi sebuah objek yang dikonstruksi secara baru sehingga bisa menghasilkan sebuah pemaknaan baru.

Dalam tema kurasi Intimitas (atau Intimacy) dalam Program Kompetisi Festival di ARKIPEL Grand Illusion – 3rd Jakarta International Documentary & Experimental Film Festival, 2015, disajikan lima karya yang masing-masing menggambarkan bagaimana keintiman terhadap medium bisa berdampak pada keintiman realitas itu sendiri. 35 karya filem yang lolos ke dalam Program Kompetisi Internasional pada Festival ARKIPEL ini, merupakan hasil klasifikasi secara tematik yang dilakukan oleh tim selektor, sebagai suatu usaha pembacaan atas karya-karya yang lolos seleksi, sekaligus sebagai usaha dari pihak festival, khususnya para selektor, dalam menjembatani sekaligus menghadirkan ruang dialog untuk mewacanakan karya-karya sinema yang terseleksi kepada para penonton. Tema “intimitas” adalah salah satu dari tujuh tema yang ditayangkan dalam Program Kompetisi Internasional.

One Blue Bird, Hasumi Shiraki

One Blue Bird, Hasumi Shiraki

Kelima karya yang terklasifikasi dalam tema “Intimitas” tersebut beragam dari latar kulturalnya, yang dibagi lagi menjadi 2 slot, yang masing-masing slot di antaranya adalah karya One Blue Bird karya Hasumi Shiraki (Jepang), Fraction karya Guillaume Mazloum (Perancis), dan Endless, Nameless karya Mont Tesprateep (Thailand) yang masuk ke dalam slot pertama. Sementara itu, Flor Azul karya Raul Domingues (Portugal), dan The Nation karya Pieter Geenen (Belgia) masuk ke dalam slot kedua. Untuk penayangan slot pertama dihelatkan di Kineforum, Taman Ismail Marzuki (TIM), pada tanggal 24 Agustus pukul 15.00, sedangkan slot kedua ditayangkan di Institut Français d’Indonésie (IFI) di Jl. MH Thamrin No. 20 Jakarta, pada pukul 19.00 di hari yang sama.

Flor Azul, Raul Domingues

Flor Azul, Raul Domingues

ARKIPEL, sebagai sebuah festival yang membawa wacana eksperimental dalam karya-karya sinema, merupakan tantangan yang tak pernah berhenti dalam menghadapi kebudayaan populer yang masih cukup dominan dalam khasanah sinema di Indonesia. Tantangan terbesar dari sesi Program Kompetisi Internasional ini, pada dasarnya, adalah bagaimana mendorong penonton untuk bisa memiliki antusias, di mana pihak penyelenggara festival ARKIPEL sendiri berusaha memberikan jembatan-jembatan dialog, baik secara tematis maupun secara wacana, untuk memberikan semacam daya tarik dan pemahaman dalam konteks kultur menonton, dalam menyikapi fenomena tontonan sinema yang berlangsung di Indonesia, dan di Jakarta pada khususnya. Usaha-usaha dari ARKIPEL tersebut terus dilakukan tanpa henti, dan bisa dilihat dari perlahannya peningkatan antusias penonton sinema yang lebih baik dari tahun sebelumnya.

The Nation, Pieter Geenen

The Nation, Pieter Geenen

According to Walter Benjamin, the distance between the camera’s eye and reality is not really a natural distance, the mediation of the medium makes a camera eye is the distance that could create a new disclosure. This is certainly an impact on how a camera eye aiming everyday objects in our consciousness, becoming a new object constructed so that it can produce a new meaning.

In the curatorial theme of Intimacy in the Festival Competition Program in ARKIPEL Grand Illusion – 3rd Jakarta International Documentary & Experimental Film Festival, 2015, presented five works, each of which illustrates how the intimacy of the medium may affect the intimacy of reality itself. 35 works of film who qualified for the International Competition Program at this ARKIPEL Festival, were resulted from thematic classification conducted by selector team, as a reading attempt of the works that passed the selection, as well as the efforts of the festival, especially the selectors, for bridging while providing a space for dialogue for raise the discourse of selected cinema work to the audience. The theme of “Intimacy” is one of the seven themes are shown in the International Competition Program.

The five films that are classified in the theme of “intimacy” came from various cultural background, which are further divided into two slots, each slot of which is the work of One Blue Bird by Hasumi Shiraki (Japan), Fraction by Guillaume Mazloum (France), and Endless, Nameless by Mont Tesprateep (Thailand) that went into the first slot. Meanwhile, Flor Azul by Raul Domingues (Portugal), and The Nation by Pieter Geenen (Belgium) went into the second slot. For the first slot screening was held at Kineforum, Taman Ismail Marzuki (TIM), on 24 August at 15.00, while the second slot was shown at the Institut Français d’Indonésie (IFI) on Jl. MH Thamrin No. 20 Jakarta, at 19.00 on the same day.

ARKIPEL, as a festival that brings discourse in the works of experimental cinema, is a never-ending challenge in the face of popular culture that is still quite dominant in the Indonesia cinema realm. The biggest challenge of the International Competition program session is, in essence, is how to encourage the audience to be enthusiast, where the organizers of the festival ARKIPEL themselves seeks to provide bridges of dialogue, both thematically and in discourse, to give a sort of fascination and understanding in the context of culture of spectacle, in addressing the phenomenon of cinema that took place in Indonesia, and in Jakarta in particular. ARKIPEL efforts are continuing relentless, and can be seen from the gradual increase of spectators’ enthusiast that is better than the previous year.

Leave a Comment