In News, Reportage
Seni Melihat Masalah Sosial Berdasarkan Persoalan Estetis yang Bersembunyi di Baliknya

 

JAKARTA, ARKIPEL, Forum Lenteng — Sinema adalah sesuatu yang transformatif karena gambar pada filem tidak hanya berada di layar, namun juga ada di kepala penonton. Tema festival “Electoral Risk” pada ARKIPEL – Jakarta International Documentary & Experimental Film Festival pada tahun 2014 ini, satu diantaranya adalah mengangkat filem karya dari Alexander Kluge, berjudul News Ideological Antiquity: Marx/Eisensetin/ Capital (2008), merupakan usaha membaca sejauh mana dokumenter memiliki konteks sosial politik, khususnya ketika sinema memandang sebuah bahan baku teks ideologis yang disematkan pada gambar bergerak.

Sesi diskusi dari Program Kuratorial untuk filem karya Alexander Kluge ini berlangsung pada tanggal 13 September, 2014, di Goethe Institut Jakarta. Tema “Marxis Kekiniaan: Antara Teks dan Image” yang diangkat oleh pihak panitia ARKIPEL, pada dasarnya, tidak lepas dari animo para pembaca Marx di Indonesia yang masih merujuk pada studi-studi secara teks. Sedangkan pengertian marxis dalam koridor ‘image’ adalah bagaimana memandang pemikiran Marx di bidang seni, khususnya bagaimana melihat filem ‘Das Kapital’ dari Alexander Kluge sebagai cara untuk melihat pergulatan persoalan di masyarakat berdasarkan persoalan-persoalan estetis yang tersembunyi di dalam seni.

Diskusi ini menghadirkan dua orang pembicara, Dr. Budi Hardiman dan Martin Suryajaya. Pembicara pertama, Martin Suryajaya, mengawali pembicaraan dengan melihat proyek Das Kapital sebagai sesuatu yang pada awalnya merupakan proyek besar Karl Marx yang memandang dari banyak matra pengetahuan. Dalam makalahnya, Martin Suryajaya mengungkapkan bahwa Das Kapital Marx pada dasarnya adalah ingin menemukan ‘hukum gerak’ yang mengatur perkembangan masyarakat secara keseluruhan.

Dalam konteks proyek Eisenstein yang ingin membuat filem berdasarkan teks Das Kapital itu sendiri, Eisenstein berusaha mengeksplorasi bagaimana dialektika dihadirkan secara sinematis. Dalam konteks ini, Eisensetin banyak dipengaruhi oleh pendekatan novel James Joyce dalam karyanya Ulysses yang mengungkapkan kehidupan sehari tokoh Leopold Bloom. Namun, metode Eisenstein berbeda dari Joyce. Joyce menguraikan kisahnya lewat gaya ‘arus kesadaran’ (stream of consciousness): kenyataan di luar diri Leopold Bloom diserap ke dalam monolog internal, ke dalam percakapan batin yang inkoheren dan mengaburkan distingsi antara fiksi dan kenyataan, antara benda dan imajinasi tentang benda. Yang menjadi pusat dalam paradigma estetik Joyce tetaplah individualitas. Seperti Robinson Crusoe, tampil subjek individual yang melahap dunia melalui kalkulasinya, Leopold Bloom tampil sebagai subjek yang menyedot kenyataan melalui monolog internalnya. Eisenstein, sebaliknya, hendak mengakarkan individu dan kesadarannya pada semesta sosial-material. Jika monolog internal Joyce dicirikan oleh hubungan asosiasi tak langsung yang bermain pada arus kesadaran, maka apa yang hendak dibuat Eisenstein bisa kita sebut sebagai monolog sosial-material. Dalam rancangan Eisenstein, individu hanya tampil sebagai jurubicara dari benda-benda dan hubungan sosial yang berada di balik benda-benda.

Pembicara Budi Hardiman banyak menafsirkan konten dari filem Kluge ini sehubungan dengan bagaimana Marxisme diperbincangkan dalam beragam latar pendekatan. Budi Hardiman sendiri menilai bahwa filem “Kapital” Kluge bisa dianggap sebagai sebuah neomarxis yang memperbincangkankan istilah-istilah Marx seperti alienasi, komoditas dan lain sebagainya dalam situasi kekiniaan. Alexander Kluge sendiri adalah sutradara filem yang banyak dipengaruhi oleh pemikiran Mazhab Frankfurkt, yang mana menurut Budi Hardiman, para pemikir Mazhab Frankfurt melihat Das Kapital sebagai sesuatu yang epistemologis sehingga buku Karl Marx ini tidak lagi dibaca secara ekonomis. Filem “Kapital” Kluge, bagi Budi Hardiman, adalah filem yang cukup menarik karena banyak menampilkan para tokoh yang dalam wawancara dan tanya-jawab yang memberikan perluasan cakrawala pemikiran Marx secara kekiniaan. Ada pun filem “Kapital” Kluge adalah filem yang berdurasi selama 9 jam lebih, dan menurut Budi Hardiman, filem Kluge ini adalah filem dokumenter yang tidak mudah karena perbincangan-perbincangannya yang membutuhkan kepekaan dan ketelatenan para penontonnya.

Acara diskusi dihadiri sekitar 30 lebih peserta diskusi. Sesi tanya-jawab lebih banyak merespon tentang filem Kluge ini berdasarkan wacana Marx, khususnya terkait dengan hubungan filem dan perubahan sosial, pemikiran Marx secara kekiniaan, dan lain sebagainya. Namun, ada seorang penanya yang juga berusaha mengapresiasi pengertian Marxis secara estetis, khususnya bagaimana marxisme secara estetika kontemporer di era digital, terkait dengan kehadiran filem “Kapital” Kluge yang muncul pada era tersebut.

Dari sekian proses, mulai dari pemutaran filem “Das Kapital” Alexander Kluge selama 9 jam lebih yang berlangsung dua hari, sampai dengan proses diskusi, merupakan usaha dari festival ARKIPEL untuk mewacanakan karya sinema Kluge yang dianggap memiliki korelasi penting antara sinema dokumenter dan kondisi social-politik masyarakat. Dalam sesi penutup, saya, sebagai kurator Program untuk filem “Das Kapital” Alexander Kluge, menyatakan kembali bahwa sinema dokumenter sebagai seni pada dasarnya tidak berurusan secara langsung dengan perubahan sosial di masyarakat, namun seni melihat permasalahan sosial masyarakat berdasarkan persoalan-persoalan estetis yang bersembunyi di balik seni.

Panel Discussion of “Contemporary Marxism: Between Text and Image”

The Art of Seeing Social Issue by the Aesthetic Problem that Hides Behind It.”

 

JAKARTA, ARKIPEL, Forum Lenteng — Cinema is a transformative thing because the images on the film are not only being projected on screen, but also in the audience’s head. Festival’s theme “Electoral Risk” on ARKIPEL – Jakarta International Documentary & Experimental Film Festival in 2014, one of which is lifted from the work of Alexander Kluge film, titled News ideological Antiquity: Marx / Eisensetin / Capital (2008), is an attempt to read the extent to which documentary has a socio-political context, especially when the cinema sees an ideological text materials that are pinned on moving images.

Session discussion of Curatorial Program for the work of Alexander Kluge’s film took place on 13 September, 2014, at the Goethe Institut Jakarta. The theme of “Today’s Marxist: Between Text and Image” raised by the committee ARKIPEL, basically, cannot be separated from the interest of the readers of Marx in Indonesia which still refers to studies in the text. While understanding the Marxist in the corridor ‘image’ is how Marx saw in the arts, in particular how to see the film ‘Das Kapital’ of Alexander Kluge as a way to look at issues in the community struggle based on aesthetic problems hidden in the art.

This discussion presented two speakers, Dr. Budi Hardiman and Martin Suryajaya. The first speaker, Martin Suryajaya, initiated a conversation to see Das Kapital as something that was originally a large project that looked at Karl Marx through many dimensions of knowledge. In his paper, Martin Suryajaya revealed that Marx’s Das Kapital basically wants to find the ‘laws of motion’ that regulate the development of society as a whole.

In the context of Eisenstein’s project that wants to make a film based on the text of Das Kapital itself, Eisenstein sought to explore how the dialectic is presented in cinematic. In this context, Eisenstein’s approach is heavily influenced by James Joyce in his novel Ulysses that revealed the daily life of Leopold Bloom. However, the method is different from Joyce. Joyce described the story through style ‘stream of consciousness’ (stream of consciousness): the reality beyond the self that Leopold Bloom absorbed into the internal monologue, to the incoherent inner conversation and blurs the distinction between fiction and reality, between the body and the imagination of the object. At the center of the aesthetic paradigm Joyce remains individuality. Like Robinson Crusoe, who appeared to devour the world through his calculations; Leopold Bloom appears as a subject that absorbed reality through internal monologue. Eisenstein, on the contrary, wanted to root in the consciousness of individuals and social-material universe. If Joyce’s internal monologue is characterized by indirect association that plays on the stream of consciousness, then we might call Eisenstein’s a social-material monologue. In Eisenstein’s design, the individual only appeared as a spokesman of the objects and social relations behind the objects.

Speaker Budi Hardiman interpreted the content of Kluge’s film with respect to how Marxism approaches are discussed in a variety of settings. Budi Hardiman himself considered that the film “Kapital” Kluge as a Neo-Marxist that discussed terms such as alienation, commodities and so forth in today’s situation. Alexander Kluge himself is a film director who is heavily influenced by the Frankfurkt school of thought, which according to Budi Hardiman, Frankfurt School thinkers see Das Kapital as an epistemological and as such, Karl Marx’s book is no longer readable economically. Kluge’s “Das Kapital”, for Budi Hardiman, is quite an interesting because many of the figures show that in the interview and question and answer which gives the expansion of the horizon of thought Marx in today’s setting. There is also the fact that “Kapital” lasted for 9 hours, and according to Budi Hardiman, is not easily processed because the conversations that occurred require sensitivity and patience of the audience.

The discussion was attended by over 30 participants. Question and answer session was concentrated on Kluge’s film based on the discourse of Marx, particularly with respect to the relationship of film and social change, today’s Marxism, and so forth. However, in the discussion panel, one of the participant commented on trying to appreciate the Marxist understanding of the aesthetic, especially how Marxism in contemporary aesthetics in the digital age, is associated with the presence of the film “Kapital” that appeared in the digital age.

This process, ranging from screening of the film “Das Kapital” Alexander Kluge for 9 hours over the two days to discussion, is ARKIPEL’s effort to discuss the cinematic work of Kluge which is considered to have a significant correlation between documentary cinema and conditions of social- political society. In the closing session, I, as a film curator for the program “Das Kapital” Alexander Kluge, reiterated that documentary cinema as an art is not dealing directly with social change in the community, but the art of seeing the social problems of society based on aesthetic issues that are hiding behind the art.

Leave a Comment